Menimbang Moda Transportasi Kereta Gantung di Kota Yogyakarta

Markus Hagspiel, perwakilan dari Doppelmayr, perusahaan penyedia transportasi kereta agung dari Austria. (Foto: Humas UGM)
PRESENTASI – Markus Hagspiel, perwakilan dari Doppelmayr, perusahaan penyedia transportasi kereta agung dari Austria. (Foto: Humas UGM)

Sleman, JOGJADAILY ** Moda transportasi kereta gantung digunakan di kota-kota besar seluruh dunia, seperti Australia, Italia, Prancis, Kanada, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Singapura.

Keunggulan transportasi modern ini tidak menimbulkan dampak polusi udara, karena tidak menghasilkan gas emisi karbon, bahkan tidak membutuhkan biaya investasi besar. Kereta gantung bisa mengurangi kemacetan dari biasanya 1 jam sampai 10 jam menjadi 17 menit.

Di kota London, kereta gantung mampu membawa 83.226 penunpang setiap bulan. Sementara untuk pengerjaan infrastrukturnya hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 bulan. Lebih menarik, kata Markus, transportasi yang menggunakan kabel menggantung di udara ini terbukti aman dari dampak bencana gempa dan banjir.

“Bila menggunakan bis bisa menempuh waktu 25 menit, dengan tranportasi ini hanya butuh waktu 4 menit. Moda transportasi ini tidak membutuhkan lahan yang lebih luas, biaya investasi dan operasionalnya pun sangat rendah,” kata Markus Hagspiel, perwakilan dari Doppelmayr, perusahaan penyedia transportasi kereta agung dari Austria.

Hagspiel memberi presentasi dalam Workshop Moda Tranportasi Kereta Gantung sebagai Solusi Transportasi Modern di Perkotaan di KPTU Fakultas Teknik UGM, Selasa (21/10/2014), sebagaimana dirilis Humas UGM.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Perhubungan Pemkot Yogyakarta, Hario Yudo, moda transportasi kereta gantung layak dipertimbangkan sebagai alternatif alat transportasi untuk mengurangi penggunaan kendaraan di Kota Yogyakarta. Namun, kebijakan tersebut tetap harus menyesuaikan kondisi topografi daerah, budaya, dan keterjangkauan besarnya biaya investasi yang dibutuhkan.

“Prinsipnya moda transportasi yang bisa mengurangi beban jalan raya,” ujar Hario.

Menurutnya, Kota Yogyakarta membutuhkan moda transportasi yang tidak menggunakan jalan raya. Soalnya, di kota Yogyakarta sendiri tidak memungkinkan lagi untuk menambah atau memperlebar badan jalan, sehingga transportasi yang tidak menggunakan jalan raya bisa dijadikan pilihan.

“Saya kira ini alternatif yang perlu dipertimbangkan selain monorel,” tuturnya.

Kendati demikian, kata Hario, usulan perencanaan pembangunan moda transportasi merupakan wewenang Pemerintah Provinsi DIY. Apalagi penggunaan moda transportasi kereta gantung menurutnya tidak hanya kepentingan Kota Yogyakarta, namun melibatkan kabupaten/kota terkait di DIY.

“Harus ada kerja sama antar-pemerintah dan langkah koordinasi alternatif yang segera diketemukan, agar semua perencanaan bisa dieksekusi,” papar Hario.

Dosen Arsitektur UGM, Bakti Setiawan, menambahkan, tranportasi kereta gantung memang cocok digunakan di kota-kota besar di Indonesia. Alat transportasi ini bisa mengurangi beban penggunaan jalan raya di kota besar.

“Semua itu tetap berdasarkan kebutuhan daerah dalam menyediakan transportasi yang nyaman bagi masyarakat,” ucapnya.