Steven Danerek Paparkan Hasil Riset Bahasa Rakyat Palu’e Flores di UNY

Steven Danerek asal Swedia foto bersama pejabat Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa UNY. (Foto: UNY)
Steven Danerek asal Swedia foto bersama pejabat Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa UNY. (Foto: UNY)

Sleman, JOGJADAILY ** Peneliti asal Swedia, Steven Danerek, memaparkan hasil penelitiannya di hadapan para mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah UNY, Rabu (1/10/2014), di ruang seminar gedung Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) UNY.

Steven menceritakan pengalamannya menelusuri bahasa dan budaya rakyat Palu’e, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia memilih Flores sebagai lokasi penelitiannya karena ingin mencari bahasa daerah yang tidak ada kamusnya.

“Saya memilih bahasa yang tidak banyak pembicaranya, namun tetap memiliki banyak budaya. Di Flores, ada 150 orang yang berbicara dengan bahasa yang saya teliti ini. Kalau orang lain mengadakan penelitian di Indonesia, pasti memilih Pulau Jawa. Maka saya memilih lokasi di luar Pulau Jawa,” terang peneliti cerita rakyat tersebut dalam bahasa Indonesia yang fasih, seperti diberitakan laman UNY.

Penelitian ini dilakukan Januari hingga Maret 2013. Steven menyuguhkan berbagai dokumentasi selama kegiatan di Flores yang membuat decak kagum para peserta.

“Bulan Februari adalah bulan yang berat, karena kondisinya berkabut dan banyak hewan mati serta manusia yang sakit,” ucap Steven.

Salah satu fenomena adat yang menarik perhatian Steven adalah tradisi potong kerbau sebagai sarana pembersihan tanah atau simbol syukur warga. Keunikan adat tersebut terletak pada ritual pemotongan kerbau yang menggunakan tarian. Ritual ini dapat memakan waktu satu hingga dua jam.

Setelah ritual selesai, dimulailah siklus lima tahunan yang digunakan untuk memelihara anak kerbau dan larangan memotong kerbau lagi. Beliau mengungkapkan bahwa rakyat di desa tersebut percaya bahwa selama siklus tersebut berlangsung, terdapat banyak pamali atau hal yang tabu untuk dilakukan.

Seperti diketahui, Indonesia memang terdiri atas ratusan etnis daerah yang menciptakan kekayaan budaya dan bahasa beraneka ragam. Meski bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu rakyat Indonesia, tiap etnis memiliki kekhasan bahasa daerahnya masing-masing. Fenomena ini menarik berbagai peneliti bahasa untuk menyusuri keunikan bahasa-bahasa tersebut.