Tingkatkan Kerja Sama, Bupati Bantul Kunjungi Belanda dan Suriname

Duta Besar LBBP RI untuk Republik Suriname, Nur Syahrir Rahardjo, bertukar cinderamata dengan Bupati Bantul, Sri Suryawidati, Jumat, 11 Oktober 2013. Kunjungan ini menjalin kerja sama dengan pengrajin Bantul untuk menggelar pameran di Suriname. (Foto: Pemkab Bantul)
Duta Besar LBBP RI untuk Republik Suriname, Nur Syahrir Rahardjo, bertukar cinderamata dengan Bupati Bantul, Sri Suryawidati, Jumat, 11 Oktober 2013. Kunjungan ini menjalin kerja sama dengan pengrajin Bantul untuk menggelar pameran di Suriname. (Foto: Pemkab Bantul)

Bantul, JOGJADAILY ** Belum lama ini, KBRI Den Haag bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bantul, Committee for International Partner Cities Apeldoorn dan Yayasan Indisch Erfgoed menyelenggarakan Business Meeting di Kota Apeldoorn, 23 September 2014. Acara dihadiri kurang lebih 15 orang pengusaha dari Kota Apeldoorn, Deventer, Epe, dan sekitarnya.

Dilansir laman Pemkab Bantul, selain Business Meeting, diselenggarakan pula pameran produk-produk kerajinan tangan dari kayu dan perak berkualitas tinggi serta jamuan malam masakan khas Indonesia dengan hiburan pertunjukan tari Tiwul Ayu dan Bambangan Cakil.

Kegiatan promosi diselenggarakan saat kunjungan kerja Bupati Bantul, Sri Surya Widati bersama delegasi Pemerintah Kabupaten Bantul dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta pengusaha asal Bantul.

Selama berada di Apeldoorn, Bupati Bantul bersama Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Retno Marsudi, melakukan pertemuan bilateral dengan Walikota Apeldoorn, John Berends, serta kunjungan ke perusahaan pengelolaan limbah Circulus.

Sebagai hasil konkret kunjungan kerja tersebut, Pemkab Bantul dengan CPA Apeldoorn menandatangani surat pernyataan kehendak yang akan menjadi landasan kerja sama antara kedua kota, antara lain di bidang ekonomi, perdagangan, investasi, pariwisata, pengelolaan limbah, energi terbarukan dan pertanian.

Setelah dari Belanda, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Suriname untuk meresmikan Museum Jawa yang didirikan di negara tersebut. Berbagai macam peralatan pertanian tempo dulu dan pakaian jawa disimpan di museum tersebut. Peresmian museum dilaksanakan Bupati Bantul, Sri Suryawidati.

Jawa Suriname

Tentu bukan tanpa alasan menghubungkan Bantul dan Suriname. Diperkirakan, jumlah Orang Jawa Suriname hingga 15 persen penduduk Suriname.

Dilansir Wikipedia, adanya orang Jawa di Suriname tak dapat dilepaskan dari sejarah perkebunan yang dibuka di sana. Karena tak diperbolehkannya perbudakan dan orang-orang keturunan Afrika dibebaskan dari perbudakan, pada akhir 1800-an Belanda mulai mendatangkan kuli kontrak asal Jawa, India, dan Tiongkok.

Orang Jawa awalnya ditempatkan di Suriname tahun 1880-an dan dipekerjakan di perkebunan gula dan kayu yang banyak di daerah Suriname.

Orang Jawa tiba di Suriname dengan banyak cara, namun banyak yang dipaksa atau diculik dari desa-desa. Tak hanya orang Jawa yang dibawa, namun ada orang-orang Madura, Sunda, yang keturunannya kemudian menjadi orang Jawa semua di sana.

Orang Jawa menyebar di Suriname, sehingga ada desa bernama Tamanredjo dan Tamansari. Ada pula yang berkumpul di Mariënburg. Orang Jawa Suriname sesungguhnya tetap ada kerabat di Tanah Jawa walau hidupnya jauh terpisah samudera. Itu sebabnya Bahasa Jawa tetap lestari di daerah Suriname.

Mengetahui Indonesia sudah merdeka, banyak orang Jawa yang berpunya kembali ke Indonesia. Pada 1975, saat Suriname merdeka dari Belanda, orang-orang yang termasuk orang Jawa diberi pilihan, tetap di Suriname atau ikut pindah ke Belanda.

Banyak orang Jawa akhirnya pindah ke Belanda dan lainnya tetap di Suriname. Rata-rata orang Jawa Suriname beragama Islam, walau ada sedikit yang beragama lain.

Hal yang unik dari orang Jawa Suriname, adanya larangan menikah dengan anak cucu orang sekapal atau satu kerabat. Jadi, orang sekapal yang dibawa ke Suriname itu sudah dianggap bersaudara dan anak cucunya dilarang saling menikah.