Cegah Abrasi, Warga Tanam Mangrove di Kulon Progo

KONSERVASI - Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, Bambang Tri Budi Harsono berama warga tengah menanam bibit mangrove di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Senin (28/4/2014). Kini 10 ribu ebih bibit mangrove telah tertanam di wilayah pasir mendit. (Foto: Pemkab Kulon Progo)
KONSERVASI – Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, Bambang Tri Budi Harsono berama warga tengah menanam bibit mangrove di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Senin (28/4/2014). Kini 10 ribu lebih bibit mangrove telah tertanam di wilayah pasir mendit. (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Kulon Progo, JOGJADAILY ** Untuk mencegah terjadinya abrasi laut selatan, sejumlah warga DIY melakukan gerakan menanam mangrove. Kegiatan yang dilakukan di Kulon Progo ini telah berjalan sejak enam bulan yang lalu. Kini ribuan mangrove telah tersebar di beberapa wilayah laut Kulon Progo.

Dalam kurun waktu satu tahun ini, gerakan menanam mangrove gencar dilakukan di pesisir laut selatan Kulon Progo. Penanaman mangrove dilakukan di pantai mendit hingga muara sungai progo kecamatan galur. Gerakan ini mulai muncul menyusul buruknya kondisi konservasi di pantai selatan. Dengan dilakukanya penanaman mangrove ini diharapkan kondisi laut selatan akan membaik dan terbebas dari ancaman abrasi.

Kini di wilayah muara sungai progo kecamatan galur tercatat telah ditanami 10 ribu mangrove. Penanam dilakukan pada senin (16/6/2014) oleh warga desa banaran kecamatan galur. Dalam kegiatan ini warga banaran yang tergabung dalam paguyuban kismo muncul bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan UGM. Pengurus paguyuban kismo muncul, jazil ahmadi mengaku telah melakukan kegiatan ini sejak enam bulan yang lalu.

Dari hasil kerjasama paguyuban kismo muncul dengan Fakultas Kehutanan UGM ini telah menghasilkan penanaman bibit mangrove sepanjang 9000 meter. “Penanaman dilakukan di sungai progo dekat muara, dari wilayah pedukuhan X Jonggrangan sampai Pedukuhan XII sawahan desa banaran,” Ungkap Jazil. Senin (16/6/2014).

Tidak hanya warga banaran, sejumlah pelajar juga turut serta dalam kegiatan konservasi Kulon Progo. Pada selasa (18/11/2014) sekitar 300 pelajar dari SMA/SMK di temon turut menanam mangrove di pasir pantai mendit. Penanam mangrove di wilayah pasir mendit merupakan wujud kepedulian atas kondisi pepohonan pantai mendit yang kian mengkhawatirkan. Selain berupaya untuk melakukan penanggulangan abrasi, kegiatan penanaman yang dilakuan pelajar ini juga dimaksudkan sebagai edukasi bagi para pemuda agar peduli dengan kelestarian pantai mendit.

Sebelumnya asisten perekonomian pembangunan dan SDA Sekretaris daerah Kulon Progo, Triyono secara simbolis telah menerima bantuan berupa 400 bibit mangrove dari Pimpinan cabang bank BRI kantor cabang Wates, Agung Nugraha. Kegiatan dilaksanakan dalam rangka CSR Bank BRI peduli lingkungan.

Triyono mengaku senang dengan kegiatan konservasi mangrove, pihaknya yakin penanaman mangrove akan member manfaat yang besar pada masa depan. Pemkab Kulon Progo bersama pihak BRI telah melakukan penandatangan nota kesepakatan “anti tebang mangrove “. Dengan kegiatan ini diharapkan semua warga akan turut serta menjaga kelestarian mangrove di Kulon Progo.

Potensi Alam Kulon Progo

Sejumlah pihak telah melakukan beberapa upaya untuk mengelola potensi alam Kulon Progo agar tetap lestari dan semakin baik di masa depan. Pasalnya wilayah pesisir Kulon Progo hingga kini masih dalam ancaman terjadinya abrasi. Sekitar 80 hektare tanah di wilayah sungai progo kecamatan galur hilang karena terkena abrasi dan erosi.

Jazil menjelaskan sejumlah wilayah persawahan dekat sungai progo hilang terkena abrasi sejak tahun 1965. Warga tidak dapat memanfaatkan lahan tersebut selama puluhan tahun, namun wilayah yang sebelumya terkena abrasi tersebut muncul lagi sejak erupsi gunung merapi terjadi pada tahun 2010.

Dengan munculnya lagi wilayah persawahan tersebut, warga melakukan penguatan lahan agar kedepanya dapat dimanfaatkan untuk warga sekitar. Warga yang tergabung dalam paguyuban kismo muncul telah mendatangan MoU dengan Fakultas Kehutanan UGM. Kerjasama dilakuan selama lima tahun, kedua belah pihak akan mengupayakan kelestarian potensi alam di banaran.

Rencananya kawasan sungai Progo akan dijadikan sentra program kehutanan. Program difokuskan untuk melakukan pembibitan hingga penanaman mangrove. Keduanya berharap Potensi alam Kolon Progo khususnya daerah muara sungai progo akan terus mengalami perkembangan yang baik dan tidak lagi terjadi erosi dan abrasi.