DIY Kota Batik Dunia, Bantul Kembangkan Rumah Produksi Terpadu

Dewan Kerajinan Dunia menobatkan DIY sebagai kota batik dunia (Foto: Pemkab Bantul)
PEMBERDAYAAN – Bupati Bantul, Sri Surya Widati meresmikan pendopo batik Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Sabtu (17/4/2010). Bupati Bantul mengupayakan pembangunan rumah produksi batik terpadu, yang dipusatkan di Giriloyo. (Foto: Pemkab Bantul)

Bantul, JOGJADAILY ** Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council/WCC) menobatkan DIY sebagai kota batik dunia pada kamis (23/10/2014) di Dongyang, Tingkok. Sebelumnya DIY juga diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Menyusul pemberian predikat tersebut, kini DIY terus melakukan sejumlah langkah riil untuk mempertahankan serta mengembangkan produksi kreatifitas batik.

Tim Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council/WCC) telah melakukan penilaian langsung terhadap produksi batik tulis DIY. Penilaian hanya difokuskan pada rumah produksi batik tulis bukan batik cetak atau printing. Direktur Eksekutif Dewan Kerajinan Nasional DIY, Roni Guritno mengatakan penilaian difokuskan pada kerajinan khas dan DIY mempunyai sentra kerajinan batik tulis yang berada di Giriloyo.

DIY Kota Batik Dunia

Selain unggul dalam proses produksi, DIY dipandang pantas untuk menyandang predikat kota batik dunia lantaran faktor sejarah. DIY dinilai sebagai pusat kerajinan batik Indonesia, selain memiiki dasar sejarah yang kuat, DIY juga dipandang mampu menjalankan perdagangan batik hingga saat ini. Para pelaku seni dan pengrajin batik di Jogja mempunyai kemampuan untuk menjalankan roda ekonomi melalui bidang ini.

Sebelumnya Museum Rekor Indonesia (MURI) telah mencatat Jogja sebagai pemecah rekor membatik massal 3000 orang pada 3000 meter kain. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan HB X mengatakan sejumlah penghargaan tersebut hanya merupakan simbul untuk mendukung citra Jogja sebagai kota batik.

Sultan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan langkah nyata untuk melestarikan batik, salah satunya yakni dengan mengenakan batik dalam kehidupan sehari – hari. Regenerasi pengrajin batik juga menjadi perhatian penting dalam rangka mempertahankan produktifitas dan kualitas batik tulis. “Dibutuhkan langkah riil, agar batik tetap ada, perajin terus berproduksi, membangkitkan semangat, menghadirkan pebatik muda,” Ungkap Sri sultan, Kamis (21/10/2014).

UGM juga turut memberikan masukan terkait gelar DIY dimata dunia ini. UGM melakukan kajian terkait hal ini pada Selasa (18/11/2014). Sejumlah pengamat dan praktisi turut serta memberikan pandangan dalam diskusi yang digelar di Eastparc Hotel. Direktur UGM Press, Harni Dwi Pranowo mengatakan pentingnya kesatuan tekad antara Pemerintah, masyarakat, pelaku industri hingga akademisi untuk mendukung predikat baru ini.

Selain nilai seni, batik juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. “batik tidak terpisahkan dari Jogja selain sebagai nilai seni, batik juga telah memberikan keuntungan ekonomi yang cukup besar kepada masyarakat DIY,” Kata Dosen Arsitek Fakultas Teknik UGM, Sita Adhisakti, Selasa (18/11/2014).

Rumah Produksi Terpadu

Rupanya Pemkab Bantul memberikan respon yang cukup cepat menyusul predikat baru DIY sebagai kota batik dunia. Pemkab Bantul berencana untuk membangun rumah produksi batik terpadu di sentra kerajinan batik tulis Giriloyo, Kecamatan Imogiri. Bantul merupakan sentra pengrajin batik DIY, hampir 70 persen batik DIY berasal dari Bantul.

Bantul merupakan salah satu daerah di DIY yang memiliki banyak pengrajin batik tulis. Namun hingga saat ini belum ada penataan rumah produksi, sejumlah pengrajin masih melakukan produksi secara sederhana di rumah masing – masing. “Kami sedang mengupayakan rumah produksi terpadu agar dimanfaatkan para pengrajin, pasalnya hingga saat ini aktivitas membatik dilakukan di rumah masing – masing,” Ungkap Kepala Bidang Perindustrian Disperindagkop Bantul, Kesi Irawati.

Kini Pemkab bantul sedang melakukan upaya agar rencana pembangunan rumah produksi terpadu akan terwujud pada tahun 2015 mendatang. Dengan adanya rumah produksi terpadu diharapkan Giriloyo menjadi kawasan yang mampu menyerap perhatian wisatawan lokal maupun asing. “sudah kami usulkan pada tahun anggaran 2015, dan kami optimis DIY akan mendukung langkah ini (rumah produki terpadu),” Tegas Kesi.

Pemkab Bantul berharap dengan ditetapkannya DIY sebagai kota batik dunia akan membawa dampak positif bagi keberlangsungan produksi batik di Bantul. Hingga kini terdapat 612 Industri Kecil Menengah (IKM) di Bantul.