KSAD: Mari Gerilia Melawan Invisible Hand

BELA NEGARA - Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengajak seluruh rakyat untuk menjaga perdamaian dan membendung kekuatan asing yang buruk. (Foto: UNY)
BELA NEGARA – Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengajak seluruh rakyat untuk menjaga perdamaian dan membendung kekuatan asing yang buruk. (Foto: UNY)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Indonesia tengah dihadapkan pada ancaman oleh tangan-tangan tidak terlihat yang hendak menguasai negara. Mereka adalah orang-orang yang dikendalikan pihak luar.

Demikian diungkapkan Kepala Staf TNI AD (KSAD), Jenderal Gatot Nurmantyo. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat mewaspadai adanya invisible hand tersebut.

“Di sini (Yogyakarta—red ), tempat merencanakan gerilia. Mari kita lakukan gerilia,” ujarnya usai Sarasehan Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) di Bale Raos, Keraton Yogyakarta, Rabu (12/11/2014).

Dia menjelaskan, rencana gerilia yang dimaksud bukan untuk melawan pemerintahan, tapi melawan adanya invisible hand. Invisble hand adalah orang-orang internal negara yang dikendalikan oleh pihak eksternal.

“Inilah perang yang kita hadapi sekarang,” tandasnya.

Ia menampik saat ditanya pewarta jika invisible hand tersebut merupakan orang-orang yang tidak setuju dengan pemerintahan Jokowi-JK. Ia hanya memberikan contoh, bagaimana anak-anak muda merasa bangga dan hebat ketika mengikuti budaya K-Pop dari Korea atau budaya Western. Itu jadi bagian dari invisible hand.

“Kondisi bangsa kita sedang bagus. Pilpres dengan persaingan 60 juta versus 70 juta (suara) saja damai. Ini momentum untuk menjaga perdamaian itu. Kita harus bersatu,” ujar Gatot.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ancaman itu cukup kuat mengingat Indonesia termasuk negara dengan kekayaan alam melimpah. Sementara itu, dunia akan dihadapkan pada krisis energi pada 2043, akibat lonjakan penduduk.

“Negara ini sangat kaya, jadi target dikuasai negara lain. Ini harus diantisipasi karena 70 persen konflik dunia dilatarbelakangi masalah energi,” ucapnya.

Potensi konflik berikutnya juga dimungkinkan terkait masalah air dan pangan. Karenanya, KSAD mengajak seluruh seluruh elemen bersatu mempertahankan perdamaian saat ini.

Namun, Gatot juga bicara tentang kewajaran, ketika TNI masuk ke ranah politik dan pemerintahan. Asalkan setelah menyandang status purnawirawan.

“Jangan bawa-bawa nama TNI ke politik. TNI kan tidak berpolitik,” tegasnya.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengajak PPAD berkontribusi, menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Apalagi dunia seolah tanpa jarak akibat masifnya arus informasi.

“Sekarang kita tidak akan bergerilia lagi, tapi sistem informasi dan pasar global oleh unit usaha transnasional pasti akan mempengaruhi internal kita,” ujar Sultan.

Setelah acara sarasehan di Bale Raos, anggota PPAD bertandang ke Siti Hinggil Keraton Kasultanan Yogyakarta, untuk napak tilas lokasi pelantikan Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS), 17 Desember 1949 silam. Di samping itu, rombongan juga akan napak tilas di Plaza Serangan Oemoem 1 Maret serta Museum Soeharto.