Logo Baru Jogja Masuk Tahap Penyempurnaan Visualisasi Desain dan Tagline

KRITIS - Praktisi desain Jogja, Sumbo Tinarbuko. Ia termasuk salah satu kritikus utama logo Jogja baru. (Foto: Twitter)
KRITIS – Praktisi desain Jogja, Sumbo Tinarbuko. Ia termasuk salah satu kritikus utama logo Jogja baru. (Foto: Twitter)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Pemda DIY membentuk tim khusus untuk melakukan penjaringan logo baru. Tim akan menyeleksi ratusan sumbangan logo baru dari masyarakat yang telah terkumpul.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, Tavip Agus Rayanto, mengatakan, hasil seleksi logo sumbangan akan dikerucutkan pada tiga atau lima opsi saja.

“Akan diseleksi, diambil tiga atau lima opsi,” ujar Tavip, usai rapat koordinasi di Kepatihan, Selasa (4/11/2014).

Ia menjelaskan, saat ini sudah terkumpul ratusan logo dari masyarakat dari berbagai daerah. Dari Jakarta tercatat 90 logo, sementara sumbangan Jogja Darurat Logo ada 30-an.

“Totalnya sampai 120-an logo. Itu nanti dikerucutkan lagi oleh tim sebelum diserahkan ke Gubernur,” imbuh Tavip.

Ia menjelaskan, tim khusus dibentuk oleh Bappeda, dan bertugas menyeleksi sumbangan logo dengan terlebih dahulu mengkritisi logo ‘Jogja A New Harmony’ karya Hermawan Kertajaya.

“Nantinya bisa jadi, logo-logo itu akan ditambal sulam. Digabung-gabung konsepnya hingga mengerucut pada tiga atau lima opsi saja,” katanya.

Bappeda juga sedang membahas wacana pemberian penghargaan bagi yang berkontribusi membuat logo baru.

“Catatannya, ya kalau dibuat kaos ya bangga dipakainya, bukan malah isin (malu—red),” ujar Tavip merespons pernyataan praktisi desain Sumbo Tinarbuko bahwa logo karya Hermawan, kalau dipajang di kaos, paling hanya dipakai untuk tidur.

Tim khusus tersebut akan melibatkan sekitar 10 praktisi desain logo asal Yogyakarta. Namun tak menyebutkan daftar namanya, karena masih menunggu persetujuan Gubernur.

Selesai Tahun Ini

Tavip menjelaskan, ada tiga poin utama yang disoroti dalam evaluasi logo Hermawan, yakni filosofi, visualisasi desain, dan tagline. Dari sisi filosofi sudah tidak ada masalah. Sekarang tinggal menyempurnakan visualisasi desain dan tagline-nya.

“Makanya tim ini lebih banyak melibatkan praktisi desain. Hermawan tidak ikut, karena kan karya dia yang dievaluasi. Unsur pemerintah juga nggak ada,” ujar pria yang lihai memainkan alat musik saksofon itu.

Ia menargetkan, logo baru tetap bisa diselesaikan tahun 2014 ini. Lantas proses peluncuran, sosialisasi, sampai implementasinya baru dilakukan tahun depan. Ketika ditanya mengapa tidak sejak awal melibatkan praktisi desain lokal, Tavip beralasan agar pemahaman filosofinya tidak melenceng.

Logo lama ‘Jogja, Never Ending Asia’, seluruh filosofi, konsep, hingga desainnya dikerjakan oleh Hermawan. Sehingga pakar marketing MarkPlus Inc itu dianggap lebih memahami latar belakangnya.

“Jangan sampai nanti asal bikin desain logo. Tapi kan harus ada renaissance, keberlanjutannya (dari branding yang lama),” kata mantan akademisi UGM itu.

Ia sepakat dengan pernyataan Sri Sultan HB X bahwa rebranding ini harus mampu menjawab tantangan masa depan. Tidak melulu berkutat pada tradisionalisme masyarakat Yogyakarta yang identik dengan keraton dan kampung-kampungnya, tapi juga menuangkan unsur modernitas.