Seribu Mangrove Kulon Progo untuk Indonesia

CEGAH ABRASI - Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo melakukan penanaman mangrove bertajuk ‘Seribu Mangrove dari Kulon Progo untuk Indonesia’ di Kalipasir Pasirmendit Kulon Progo, Sabtu (13/12/2014). (Foto: Pemkab Kulon Progo)
CEGAH ABRASI – Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo melakukan penanaman mangrove bertajuk ‘Seribu Mangrove dari Kulon Progo untuk Indonesia’ di Kalipasir Pasirmendit Kulon Progo, Sabtu (13/12/2014). (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Kulon Progo, JOGJADAILY ** Diprakarsai mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Jurusan Biologi, dilakukan penanaman mangrove bertajuk ‘Seribu Mangrove dari Kulon Progo untuk Indonesia’ di Kalipasir Pasirmendit Kulon Progo, Sabtu (13/12/2014). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis Jurusan Biologi UNY.

Dilansir Pemkab Kulon Progo, Ketua Panitia Failasuk Aulia Nugroho, menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan tahunan dan berkelanjutan. Tidak hanya penanaman, para mahasiswa juga melakukan penelitian tanaman mangrove untuk pewarna tekstil.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, menambahkan, mangrove adalah tanaman multi-fungsi dan kegunaan. Tanaman ini bisa menahan terpaan angin laut yang mengandung garam dan dapat mencegah abrasi. Mangrove dapat dimanfaatkan secara ekonomi, semisal daunnya yang dapat diolah menjadi makanan.

“Mangrove sangat banyak kegunaannya. Banyak ekosistem yang mengambil manfaatnya,” jelas Bupati.

Cegah Abrasi

Untuk mencegah terjadinya abrasi Laut Selatan, sejumlah warga DIY memang melakukan gerakan menanam mangrove. Di Kulon Progo, program ini telah berjalan sejak enam bulan lalu. Kini, ribuan mangrove telah tersebar di beberapa wilayah laut Kulon Progo.

Dalam kurun waktu satu tahun, gerakan menanam mangrove gencar dilakukan di pesisir Laut Selatan Kulon Progo. Penanaman mangrove dilakukan di Pantai Mendit hingga muara Sungai Progo Kecamatan Galur. Gerakan mulai muncul menyusul buruknya kondisi konservasi di Pantai Selatan. Dengan dilakukannya penanaman mangrove diharapkan kondisi laut selatan akan membaik dan terbebas dari ancaman abrasi.

Kini, di wilayah muara Sungai Progo Kecamatan Galur telah ditanami 10 ribu mangrove. Warga Desa Banaran Kecamatan Galur yang tergabung dalam Paguyuban Kismo Muncul bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan UGM.

Dari hasil kerja sama, Paguyuban Kismo Muncul dan Fakultas Kehutanan UGM telah menghasilkan penanaman bibit mangrove sepanjang 9.000 meter. Penanaman dilakukan di Sungai Progo dekat muara, dari wilayah Pedukuhan X Jonggrangan sampai Pedukuhan XII sawahan Desa Banaran.

Tidak hanya warga Banaran, sejumlah pelajar juga turut dalam konservasi Kulon Progo. Sekitar 300 pelajar dari SMA/SMK di temon turut menanam mangrove di Pantai Pasirmendit. Penanaman mangrove di wilayah Pasir Mendit merupakan wujud kepedulian atas kondisi pepohonan Pantai Mendit yang kian mengkhawatirkan. Selain berupaya melakukan penanggulangan abrasi, kegiatan penanaman yang dilakuan pelajar ini juga dimaksudkan sebagai edukasi bagi para pemuda agar peduli pada kelestarian pantai.

Rencananya, kawasan Sungai Progo akan dijadikan sentra program kehutanan. Program difokuskan untuk melakukan pembibitan hingga penanaman mangrove. Potensi alam Kolon Progo khususnya daerah muara sungai progo akan terus mengalami perkembangan yang baik dan tidak lagi terjadi erosi dan abrasi.