Atasi Kesenjangan Produksi Padi Asia, BPTP Yogyakarta Andalkan CORIGAP

Alexander Stuart (IRRI) dan Arlyna Budi Pustika (BPTP) dalam sebuah workshop di Yogyakarta. (Foto: Puslitbangtan)
Alexander Stuart (IRRI) dan Arlyna Budi Pustika (BPTP) dalam sebuah workshop di Yogyakarta. (Foto: Puslitbangtan)

Sleman, JOGJADAILY ** Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta dan Irrigated Rice Research Consortium (IRRC) bekerja sama dalam program Closing Rice Yield Gaps (CORIGAP).

CORIGAP bertujuan meningkatkan produksi padi sawah berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan. Selain itu, mengatasi kesenjangan hasil tanaman padi di Asia.

Ada dua fase proyek jangka panjang dalam CORIGAP. Fase pertama berlangsung pada 2013-2016 dan fase kedua berlangsung pada 2017-2020.

“CORIGAP telah dilakukan di DIY dan Sumatera Selatan. BPTP Yogyakarta selaku badan yang ikut bekerja sama akan mendukung upaya peningkatan produksi bersama IRRI,” ujar Kepala BPTP Yogyakarta, Sudarmaji.

Menurutnya, CORIGAP disinkronisasikan dengan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu atau (GP-PTT) supaya mendapatkan output optimal.

GP-PTT merupakan lanjutan dari Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT ) yang dilakukan 2008-2014. GP-PTT fokus pada pengembangan budidaya berdasarkan lokasi atau kawasan. Jika pada SL-PTT pemerintah hanya memberikan fasilitasi bantuan biaya tambahan di luar Sarana Produksi Padi (Saprodi), pada GP-PTT pemerintah memberikan bantuan Saprodi lengkap dan biaya kegiatan pertanian lainnya.

Fokus GP-PTT pada pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan khusus padi, jagung, dan kedelai.

Kriteria khusus kawasan tanaman pangan dalam aspek luas agregat kawasan, yaitu kawasan padi 5.000 ha per 2-4 kecamatan; kawasan jagung 3.000 ha per 2-4 kecamatan; dan kawasan kedelai 3.000 ha per 2-4 kecamatan.

Dalam kawasan tersebut diharapkan terjadi peningkatan produksi pertanian.

Syarat suatu kawasan mendapatkan GP-PTT adalah potensi peningkatan provitas di atas 1 ton yang nantinya akan dievaluasi tiap tahun sebelum dan sesudah GP-PTT.

Syarat lain adalah usulan E-Proposal dari daerah, daerah berproduktivitas rendah, serta komitmen daerah tersebut.

Beberapa masalah para petani adalah rendahnya harga beras, penyakit kresek dan Bacterial Leaf Blight (BLB) di musim hujan, kurangnya ketersediaan air di musim kemarau, keterbatasan tenaga kerja dan traktor, serta kehilangan panen semisal penjemuran di pinggir jalan.

CORIGAP tidak memberikan hal baru, tetapi lebih menekankan pada pengembangan potensi kawasan pertanian.