UGM Diskusikan Konservasi Bahan Baku Perahu ‘Waterlogged Wood’

BAHAN PERAHU - Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Sri Nugroho Marsoem, saat International Workshop on Conservation of Archaelogical Waterlogged Wood, Senin (19/1/2015), di Fakultas Kehutanan UGM. (Foto: Humas UGM)
BAHAN PERAHU – Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Sri Nugroho Marsoem, saat International Workshop on Conservation of Archaelogical Waterlogged Wood, Senin (19/1/2015), di Fakultas Kehutanan UGM. (Foto: Humas UGM)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Ada sekitar 4.000 jenis kayu di Indonesia. Seratus jenis di antaranya dapat dipakai sebagai bahan pembuatan kapal. Bitti, misalnya, merupakan bahan kapal phinisi.

Demikian disampaikan dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sri Nugroho Marsoem, saat International Workshop on Conservation of Archaelogical Waterlogged Wood, Senin (19/1/2015), di Fakultas Kehutanan UGM.

“Indonesia kaya dengan hasil hutan, seperti kayu. Dari kekayaan yang dimiliki tersebut banyak berupa peninggalan bawah air berbahan kayu (waterlogged wood) dan tersebar di berbagai wilayah, baik di dalam maupun luar negeri. Sayangnya, konservasi berbagai waterlogged wood ini belum serius ditangani,” ujarnya seperti dirilis Humas UGM.

Acara ini membahas cara konservasi maupun teknik identifikasi waterlogged wood. Komitmen pemerintahan Jokowi yang ingin memperkuat maritim, sejalan langkah konservasi maupun pelestarian waterlogged wood.

Sementara itu, Nahar Cahyandaru dari Balai Konservasi Borobudur menyampaikan beberapa kajian konservasi waterlogged wood tersebut, seperti perahu kuno Indramayu. Balai tersebut menjadikan perahu kuno Indramayu sebagai obyek kajian dalam evaluasi metode pengeringan alami pada waterlogged wood.

Evaluasi metode pengeringan alami perahu kuno Indramayu didasarkan pada data sejarah penyelamatan, pengangkatan, dan tindakan konservasi yang pernah dilakukan, serta jenis-jenis kayu penyusun perahu serta kondisi perahu dan lingkungannya saat ini.

Fakultas Maritim

UGM memang berencana membentuk Fakultas Maritim. Langkah tersebut diambil menyusul program pemerintah untuk mengembalikan jatidiri bangsa sebagai Negara Poros Maritim.

Rektor UGM, Dwikorita, mengaku telah melakukan kajian mendalam untuk menentukan arah kurikulum ini. Rencananya, pematangan kurikulum ini selesai dalam dua tahun ke depan.

“Bentuk pasti kurikulum masih dalam proses kajian mendalam, apakah berbentuk fakultas, jurusan atau pusat studi,” jelasnya.

Kini, UGM terus melakukan evaluasi perihal pengembangan keilmuan ini, termasuk mengkaji dukungan dan kapasitas.

Kepala Subdit Kerjasama Internasional UGM, I Made Andi Arsana, mengatakan, UGM memiliki sumberdaya manusia yang cukup untuk mendukung pengembangan keilmuan ini.

“UGM memiliki tenaga ahli bidang Perikanan dan Pelabuhan,” kata Andi.

Senada Andi, Dekan Fakultas Psiklogi UGM Supra Wimbrarti, mengatakan, program studi terkait kemaritiman harus dibuka dan berakses langsung ke laut. Menurutnya, dari 3.000 perguruan tinggi di Indonesia, hanya ada 14 PT dan 3 Politeknik yang mempunyai 31 Prodi Kemaritiman.