Barahmus DIY: Bukan Hanya Mendidik, Museum Juga Harus Inspiratif

REVITALISASI MUSEUM - Ketua Umum Prof Suratman Woro Suprojo ketika ditemui di rektorat UGM. (Foto: Arif Giyanto)
REVITALISASI MUSEUM – Ketua Umum Barahmus DIY Prof Suratman Woro Suprojo ketika ditemui di rektorat UGM. (Foto: Arif Giyanto)

Sleman, JOGJADAILY ** Selama ini, museum kurang menarik bagi generasi muda karena dirasa monoton. Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY menegaskan, museum bukan hanya tempat benda-benda mati yang tidak berarti. Selain sangat menunjang bagi pendidikan, museum kini didesain inspiratif.

“Adalah salah memersepsikan bahwa museum dikunjungi karena benda-benda mati. Benda-benda ini memiliki makna kesejarahan yang mengandung nilai-nilai tertentu. Museum dapat menginspirasi pengunjung bila mampu menyajikan spirit yang terkandung berupa perjuangan, kerja keras, dan tingginya keilmuan di masa lalu,” ujar Ketua Umum Barahmus DIY, Prof Suratman Woro Suprojo, kepada Jogja Daily beberapa waktu lalu di rektorat UGM.

Kepala Museum Gumuk Pasir Fakultas Geografi UGM tersebut menjelaskan, inspirasi yang muncul setelah berkunjung ke museum dapat melahirkan harapan hidup, bekal penting seseorang menjalani hidup.

“Semisal pengunjung datang ke Museum Perjuangan, semangat hidupnya akan berkobar-kobar. Kalau ia datang ke Museum Bahari, ia akan semakin mencintai Nusantara. Artinya, museum dapat membentuk karakter generasi penerus yang penuh dedikasi dan integritas,” terang Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat itu.

Suratman menekankan penyajian materi kemuseuman yang harus terus inovatif. Karena zaman terus berkembang dan dinamika masyarakat semakin kompleks, museum menjadi tempat yang layak dikunjungi untuk mempertahankan nilai-nilai dan karakter daerah, serta kebangsaan.

Revitalisasi Museum

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada 2014 terdapat enam Program Prioritas Nasional di bidang kebudayaan. Salah satunya, revitalisasi museum. Tahun 2013, terdapat 18 museum yang berhasil direvitalisasi. Sedangkan pada 2014, ada 30 museum yang direvitalisasi.

Revitalisasi museum merupakan bentuk sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, baik dari segi anggaran, operasional, maupun manajemen sumberdaya manusianya. Ditjen Kebudayaan memberikan dana bantuan dari APBN kepada pemerintah daerah dalam menyukseskan revitalisasi museum, yang disebut tugas pembantuan.

Pusat Studi Pariwisata UGM mencatat, jumlah museum se-Indonesia hingga 2011 sebanyak 227 museum dalam berbagai bentuk. Dari jumlah itu, sekira 15 persen di DIY, atau sedikitnya 33 museum, baik yang dikelola perorangan, swasta, maupun pemerintah. Yogyakarta merupakan daerah di Indonesia yang memiliki jumlah museum terbanyak.