Geopark Gunung Sewu, Model Pembangunan Regional Kembangkan Ekonomi Lokal

PELESTARIAN - Gunung Sewu dari sisi wilayah Kabupaten Gunungkidul. Geopark Gunung Sewu adalah pelestarian untuk kesejahteraan lokal. (Foto: Petrasawacana WordPress)
PELESTARIAN – Gunung Sewu dari sisi wilayah Kabupaten Gunungkidul. Geopark Gunung Sewu adalah pelestarian untuk kesejahteraan lokal. (Foto: Petrasawacana WordPress)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Pemerintah DIY, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Pemerintah Kabupaten Wonogiri, dan Pemerintah Kabupaten Pacitan melakukan Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pelestarian dan Pengembangan Geopark Gunung Sewu di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Selasa (17/2/2015).

Tujuan penandatanganan, mewujudkan pengembangan dan pelestarian Geopark Gunung Sewu dari aspek perlindungan dan konservasi, pendidikan, dan pengembangan ekonomi masyarakat.

“Pembentukan dan pengembangan Geopark mendasarkan pada tiga pilar, yaitu konservasi, pendidikan, dan penumbuhan nilai ekonomi lokal yang umumnya adalah kegiatan pariwisata. Ketiga pilar itu menjadi tujuan dan sasaran Geopark yang pada akhirnya menjadi model pembangunan regional yang fleksibel,” ujar Gubernur DIY, Hamengku Buwono X.

Kesepakatan juga melibatkan Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Saya yakini menjadi tantangan kita bersama untuk melakukan pembenahan terhadap beberapa persyaratan yang belum bisa kita penuhi,” ucap Gubernur DIY.

Geopark merupakan kawasan geografis di mana situs-situs warisan geologis menjadi bagian dari konsep perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan secara holistik.

Gunung Sewu ditetapkan sebagai Geopark Nasional oleh Komite Nasional Geopark Indonesia pada 13 Mei 2012 dengan wilayah seluas 1.802 kilometer persegi yang terbagi menjadi 3 GeoArea (Gunung Kidul, Wonogiri, dan Pacitan). Di dalamnya terdapat 33 situs warisan alam (30 situs geologi dan 3 situs non-geologi).

Menurut Kepala Badan Kerjasama dan Penanaman Modal DIY, Totok Prianamto, ruang lingkup kesepakatan bersama meliputi tujuh kegiatan, yaitu kelengkapan dokumen administrasi; penyediaan sarana dan prasarana; pengembangan pariwisata dan pendidikan; pengembangan partisipasi masyarakat; pembentukan lembaga pengelola; pendampingan, pelatihan, dan sosialisasi; serta pengembangan pelestarian, perlindungan, dan konservasi.

Berdasarkan penilaian asesor United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2014, Geopark Gunung Sewu belum dapat masuk dalam jaringan Geopark UNESCO karena belum optimalnya aspek kelembagaan pengelolaan.

Untuk itulah, dilakukan inisiatif penyusunan kerja sama lintas wilayah dan lintas sektor yang ditandai dengan penandatanganan kerja sama ini.

Karst Gunung Sewu

Sementara itu, praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, mengatakan, Geopark Gunung Sewu harus memperhatikan pelestarian karst. Karena, penambangan akan berdampak pada lingkungan dan gaya hidup masyarakat yang tidak selalu baik.

“Ada Museum Karst di Wonogiri, pertanda pentingnya menjaga karst agar tetap lestari. Geopark Gunung Sewu sangat bertumpu pada deretan karst yang membentang di wilayah Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan,” ungkap Albi.

Ia menjelaskan, pariwisata karst yang dapat dikembangkan adalah wisata pantai berpasir putih, panjat tebing, susur gua, wisata sejarah, dan wisata religius.

“Sejarahnya, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY memang memiliki keterkaitan erat. Secara kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya, juga secara alam yang memiliki keterhubungan,” pungkasnya.