Integrasi Matematika dan Laut, Jurus Ampuh Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY

GEMBIRA - Kegiatan belajar mengajar di kelas VII D MTs Negeri Kalabahi oleh Tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY. (Foto: Arif Giyanto)
GEMBIRA – Kegiatan belajar mengajar di kelas VII D MTs Negeri Kalabahi oleh Tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY. (Foto: Arif Giyanto)

Kalabahi, JOGJADAILY ** Masing-masing daerah memiliki karakter sosial yang berbeda, termasuk para pelajarnya. Program literasi matematika yang dikawal tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY mengandalkan integrasi matematika dan laut untuk menginisiasi ketertarikan generasi muda pada matematika.

“Awalnya, kita sempat kebingungan. Ketika kelas dibuka, ramai sekali suasananya. Kami bahkan perlu berteriak untuk menenangkan mereka. Apalagi setelah perkenalan, kami datang untuk mengajar matematika, rata-rata siswa tidak bersemangat,” ungkap anggota tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY, Anang Arum Pamungkas, di MTs Negeri Kalabahi, Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia menjelaskan, kebingungan tersebut tidak berlangsung lama. Karena setelah memancing mereka dengan keterhubungan antara matematika dan laut, semangat kelas mulai tampak. Matematika dapat dipelajari dengan menghadirkan kehidupan laut yang tiap saat mereka jalani.

“Ekspresi mereka yang spontan ternyata berbanding lurus dengan keterbukaan sikap dan pikir. Ketika matematika disajikan dalam konteks perikehidupan mereka, tingkat kesulitan yang selama ini menyiksa mereka, seperti rumus-rumus, dapat dipahami dengan mudah,” ujar Anang.

Menurutnya, keterbukaan berimplikasi positif karena setelah clue didapatkan, siswa menjadi aktif. Tidak seperti yang dibayangkan, keaktifan mereka dalam bertanya atau merespons tugas ternyata sangat mengagumkan.

“Kalau ketertarikan sudah ada, intensitas pengajaran matematika akan berbuah prestasi luar biasa. Apalagi bila ditunjang dengan metode ajar yang bervariasi agar siswa tidak bosan, bukan tidak mungkin, generasi pemimpin bangsa ke depan akan lahir dari Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara Timur,” terang mahasiswa FKIP Matematika Kampus II tersebut.

Ketepatan program literasi matematika, sambung Anang, ada pada pemahaman pengajar pada materi matematika yang lekat dengan sosiologi masyarakat setempat. Peserta didik akan menyatu dengan matematika bila dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-sehari. Matematika kemudian menjadi sangat dekat dan disukai.

“Saya belajar banyak dari program ini. Ternyata penguasaan keilmuan lain di luar kependidikan matematika seperti sosiologi, antropologi, dan sosiologi sangatlah penting menunjang keberhasilan pengajaran matematika. Guru matematika adalah sosok yang dituntut multitalenta sekaligus kreatif agar menghasilkan siswa-siswi yang mahir bermatematika,” pungkas Anang.

Orientasi Medan

Anang memberi rekomendasi penting seputar akurasi orientasi medan ajar sebelum program dibuat dan dijalankan. Semakin presisi, program semakin tepat, karena berbasis pada kebutuhan masyarakat setempat.

Foto bersama siswa kelas VII E pada akhir kegiatan belajar mengajar. (Foto: Arif Giyanto)
Foto bersama siswa kelas VII E pada akhir kegiatan belajar mengajar. (Foto: Arif Giyanto)

“Perencanaan memang menjadi hal inti, meski pada kenyataannya akan banyak improvisasi saat pelaksanaan program. Masukan dari ahli berupa penelitian sebelumnya atau mentoring dapat ditekankan lebih intens untuk meminimalisasi ketidaktepatan program,” kata Anang.

Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY diinisiasi FKIP Matematika UMBY untuk mengawal literasi matematika dalam konteks pemberdayaan ekonomi dan promosi daerah. Anggota tim terdiri dari Marlina, Anang Arum Pamungkas, Hidayaturrahman Loly, dan Wiji Puspandini.

Tim melakukan aktivitas mengajar dan menginisiasi beberapa program kemasyarakatan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi. Program berjalan efektif selama dua minggu dengan bermukim di rumah penduduk setempat di Kadelang, Kalabahi, Alor.