Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY Perkenalkan Literasi Matematika

Kampus I UMBY Yogyakarta. (Foto: t4nya.com)
Kampus I UMBY Yogyakarta. (Foto: t4nya.com)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Terobosan baru dilakukan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) dengan menginisiasi program kemahasiswaan turun ke masyarakat langsung bertajuk Mathventure 2015 Goes To Alor.

Program diinisiasi FKIP Matematika UMBY sebagai bentuk komitmen kampus kepada kesejahteraan masyarakat. Kali ini, mahasiswa akan berkunjung ke Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur untuk melakukan riset dan pemberdayaan masyarakat.

Tema yang diangkat untuk tahun ini adalah ‘Literasi Matematika dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Daerah’. Tujuannya, memberi sumbangsih pengajaran matematika yang peka zaman.

“Selama ini, matematika menjadi momok, karena faktor pengajaran yang kurang tepat. Literasi matematika adalah penekanan baru pembelajaran yang memberi ruang pemahaman cukup kepada peserta didik agar memahami matematika yang sebenarnya sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar anggota Tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY, Marlina, Sabtu (31/1/2015), di Kampus II Jembatan Merah.

Anggota Tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY, Marlina. (Foto: Arif Giyanto)
Anggota Tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY, Marlina. (Foto: Arif Giyanto)

Tim Mathventure 2015 Goes To Alor terdiri dari empat mahasiswa FKIP Matematika dan menjalani program selama sebulan. Selain Marlina, anggota tim lain adalah Hidayaturrahman, Anang Arum Pamungkas, dan Wiji Puspandini.

Potensi Kelautan NTT

Sementara itu, anggota tim lain, Hidayaturrahman, mengatakan, pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) dapat memprioritaskan pengembangan perikanan budidaya lebih maksimal. Selain potensinya yang melimpah, masyarakat dapat terkonsentrasi membangun citra wisata bahari.

“Banyak sekali masalah yang dihadapi nelayan ketika melaut. Regulasi yang tidak tepat, cuaca yang tidak tepat untuk melaut, hingga waktu kerja yang tidak efisien. Praktis, warga NTT kurang diskursus pengembangan daerahnya yang kaya potensi laut,” terangnya.

Putra daerah Alor tersebut menjelaskan, sumberdaya laut NTT sangat potensial untuk perikanan tangkap dan budidaya.

“Kawasan peruntukan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan pengolahan ikan tesebar di seluruh kabupaten/kota. Ada pula pengembangan kawasan minapolitan untuk perikanan tangkap dan perikanan budidaya di Kabupaten Suba Timur, Sikka, Lembata, Rote Ndao, Alor, Kota Kupang. Sementara pengembangan komoditas garam rakyat di Kabupaten Nagekeo, Ende, Kupang Tengah Utara, Kupang, Lembata, dan Alor,” ucap Hidayaturrahman.

Menimbang situasi, sambungnya, proyeksi perikanan budidaya sebaiknya mulai dibuat, karena perikanan tangkap masih menyisakan banyak masalah yang harus diselesaikan negara dalam waktu yang tidak sebentar.

“Potensi perikanan budidaya terdiri dari budidaya laut seluas 5.870 Ha berupa rumput laut, mutiara, kerapu, dengan potensi produksi mencapai 51.500 ton per tahun; budidaya air payau seluas 35,455 Ha berupa udang dan bandeng dengan potensi produksi mencapai 36 ribu ton per tahun; budidaya air tawar yang meliputi kolam air tawar seluas 8,375 Ha dengan potensi produksi mencapai 1,297 ton per tahun; dan mina padi seluas 85 Ha dengan potensi produksi mencapai 85 ton per tahun,” jelas Dayat, begitu ia akrab dipanggil.

Dayat juga memberi penekanan tentang potensi budidaya rumput laut yang telah berkembang di Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Sumba Timur dan Kabupaten Manggarai Barat.

“Komunitas rumput laut unggulan yang dibudidaya adalah Echeuma CoTonii, Eucheuma Sp, dan alga merah (red algae). Luas lahan potensial untuk budidaya rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 250 ribu ton kering per Tahun,” ungkapnya.

Comments are closed.