Bank Sampah, Sumber Dana Pembiayaan Kegiatan Sosial PKK Kota Yogyakarta

BANK SAMPAH - Kini bank sampah dapat menjadi solusi pengelolaan sampah kota yang terus menggunung. (Foto: BBC)
BANK SAMPAH – Kini bank sampah dapat menjadi solusi pengelolaan sampah kota yang terus menggunung. (Foto: BBC)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Bank sampah menjadi sumber dana pembiayaan kegiatan sosial PKK Kota Yogyakarta, terutama pendidikan PAUD. Sejumlah 10 persen hasil bank sampah dialokasikan untuk kegiatan tersebut.

“Sampah yang dikumpulkan oleh warga masyarakat kemudian dibeli oleh bank sampah yang dimotori Tim Penggerak PKK, utamanya Kelompok Kerja (Pokja) Tiga ini sangat kentara hasilnya. Selain bisa diuangkan, sampah yang lain bisa didaur ulang untuk dijadikan barang suvenir,” ujar Ketua Tim Penggerak PKK Kota Yogyakarta, Trikirana Muslidatun atau Ana Haryadi, pada Penyuluhan dan Pembinaan Pengelolaan Sampah dan Hatinya PKK, di Ruang Bima, Selasa (10/3/2015).

Menurut Ana, pendapatan masyarakat kemudian dapat bertambah. Selain mendapatkan hasil dari pengelolaan sampah, sambungnya, dapat tercapai halaman yang asri, tertib, indah, dan nyaman atau disingkat HATINYA.

Ia menjelaskan, sampah di Kota Yogyakarta setiap harinya merupakan masalah yang harus segera ditangani pengolahannya, baik secara pribadi-kelompok maupun diselesaikan Pemerintah, dalam hal ini Bagian Lingkungan Hidup.

“Namun, lebih mengena, apabila sampah ini dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada dengan mengadakan bank sampah. Bank sampah merupakan bagian usaha untuk mengurangi tumpukan sampah, sebelum dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir,” terang Ana, seperti dirilis Pemkot Yogyakarta.

Sampah Kota Jogja Capai 240 Ton Per Hari

Sementara itu, Ketua Panitia Hastuti Suyono, menjelaskan, sampah di Kota Yogyakarta kini mencapai 240 ton setiap harinya. Sebagian besar sampah berasal dari hasil rumah tangga yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir di daerah Piyungan Bantul.

Hastuti berharap, sebelum membuang sampah yang kemudian diangkut oleh petugas, hendaknya para ibu memilah sampah yang bisa didaur ulang maupun yang bisa dijual kepada bank sampah, atau paling tidak menimbun sampah organik agar menjadi kompos.

“Saya sarankan kepada para ibu-ibu jangan sampai membakar sampah. Lebih baik ditimbun untuk sampah organiknya. Sebab kalau dibakar akan menimbulkan asap yang tidak baik untuk kesehatan,” ucapnya.

Asap yang ditimbulkan oleh pembakaran sampah, lanjutnya, mengandung gas oksidan yang merusak dan berbahaya, serta dapat menimbulkan kanker otak dan penyakit paru-paru.

“Sebab, kekuatan asap tersebut 10 kali lipat dari asap rokok,” pungkas Hastuti.