Camat Gondomanan: Perilaku Istimewa Warga Jogja, Penerapan Jogja Istimewa

BERSEPEDA - Camat Gondomanan Agus Arif Nugroho. (Foto: Arif Giyanto)
BERSEPEDA – Camat Gondomanan Agus Arif Nugroho. (Foto: Arif Giyanto)

Gondomanan, JOGJADAILY ** Penerapan slogan baru DIY ‘Jogja Istimewa’ dapat mewujud dalam perilaku warga Jogja yang istimewa. Perlakuan ramah warga Jogja kepada wisatawan dan pendatang di Jogja adalah salah satu perilaku istimewa tersebut.

“Misalnya, tukang parkir atau tukang becak. Setiap kali saya bertemu dengan para tukang parkir dan tukang becak di wilayah saya, selalu saya tekankan bahwa mereka adalah duta wisata Jogja. Perlakuan mereka terhadap wisatawan sangat menentukan citra positif Jogja,” ujar Camat Gondomanan, Agus Arif Nugroho, saat ditemui Jogja Daily di kantornya, Senin (16/3/2015).

Ia mengatakan, setiap profesi di Jogja memiliki pengaruh bagi branding ‘Jogja Istimewa’. Sebagai apa pun, warga Jogja memiliki kontribusi bagi nyaman atau tidaknya pengunjung Jogja, terutama para wisatawan, baik dalam maupun luar negeri.

“Kita harus bersyukur, karena hingga kini Jogja masih menjadi tempat favorit wisata. Sebisa mungkin, kepercayaan tersebut kita jaga, karena Jogja memang istimewa dalam arti memiliki nilai dan falsafah yang luhur,” terang Agus.

Menjalankan perannya sebagai camat, Agus sebisa mungkin berinteraksi dengan stakeholder kecamatan, untuk meneguhkan keistimewaan Jogja. Ia punya cara tersendiri untuk ‘blusukan’, berupaya terus memotivasi warga berkembang lebih baik.

“Gondomanan ini merupakan kecamatan potensial. Banyak komoditas yang bisa ditawarkan kepada siapa pun. Misalnya, blangkon Mbah Suro di Kelurahan Prawirodirjan Gondomanan. Kini, ibu-ibu mulai turut berpartisipasi membuat blangkon, karena permintaan yang terus meningkat,” ucapnya bersemangat.

Prinsipnya, sambung Agus, perilaku istimewa warga Jogja juga tampak pada kreativitas, kerja keras, dan rasa memiliki dengan saling mendukung antar-warga. Kepedulian tersebut berdampak pada terbangunnya kekuatan bisnis yang dapat menyejahterakan warga.

“Modal bisnis Rp1-2 juta, bila dialokasikan dengan tepat, akan sangat membantu warga untuk mengembangkan usahanya. Pendampingan pemerintah sebagai administrator, penghubung, promosi, dan pemasaran bermuara pada kesejahteraan warga. Dengan catatan tadi, dengan berperilaku istimewa,” pungkasnya.

Jogja Gumregah

Senada dengan Agus, tokoh budaya Yogyakarta, RM Donny Surya Megananda, mengatakan, perhelatan Jogja Gumregah kemarin menonjolkan ‘gerakan budaya’, bukan hanya event biasa.

“Sebenarnya inti dari renaisans (Jogja) adalah pemikiran bahwa semua harus berlandaskan pada budaya tradisi,” ujar Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Asosiasi Museum Indonesia itu.

Donny yang juga Pengurus Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta tersebut menjelaskan, Keistimewaan Jogja bukan sekadar barang kuno, bukan hal yang sekarang tidak boleh diapa-apakan, tapi lebih pada pemikiran dasar dari diri untuk memilah hal apa yang bermanfaat dan baik, serta mana yang sebaliknya.

“Menurut saya, kita ini sudah diwarisi pemikiran pendahulu kita yang luhur. Kita ini istimewa dalam arti para orang-orangnya. Istimewa misalnya (tampak) pada konsep memayu hayuning bawana; mempercantik perempuan (Jogja) yang sudah cantik dari sananya,” terang Museum Director Museum Wayang Kekayon Yogyakarta ini.