Higienis dan Berkualitas Tinggi, Rumah Tempe Indonesia Didirikan di Godean Sleman

HIGIENIS - Rumah Tempe Indonesia (RTI) di Jalan Sidomoyo kilometer 1, Krandon, Sidomoyo, Godean, Sleman. (Foto: Pemkab Sleman)
HIGIENIS – Rumah Tempe Indonesia (RTI) di Jalan Sidomoyo kilometer 1, Krandon, Sidomoyo, Godean, Sleman. (Foto: Pemkab Sleman)

Sleman, JOGJADAILY ** Setelah Bogor, Jakarta, dan Gunungkidul, kini Rumah Tempe Indonesia (RTI) dibangun di Sleman, tepatnya Jalan Sidomoyo kilometer 1, Krandon, Sidomoyo, Godean. RTI masih tahap uji coba dengan kapasitas produksi hanya 30 kilogram per hari, hingga lambat laut akan ditingkatkan mencapai 5 kuintal per hari.

“Rencananya nanti yang kelima akan dibangun di Kulon Progo,” ujar Ketua Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Sleman, Yulianto, Kamis (26/3/2015) saat peresmian RTI, seperti dirilis Pemkab Sleman.

Peresmian RTI dilakukan Bupati Sleman, Sri Purnomo, ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pembukaan selubung papan nama, dilanjutkan peninjauan ke ruang produksi tempe.

Menurut Yulianto, aktivitas pembuatan tempe berlangsung dengan prosedur sangat higienis, sehingga tempe yang dihasilkan memiliki keunggulan tersendiri. Harga satu tempe RTI Rp3.000 rupiah, ukuran 250 gram.

“Dari rasa, enak. Dari segi umur, tidak cepat busuk. Dan bila digoreng, minyak tidak cepat kotor atau keruh,” tuturnya.

Selain itu, RTI memproduksi bajigur tempe yang enak diminum. Yulianto menargetkan, hasil produksinya bisa dipasarkan di minimarket.

“Segmennya untuk kalangan menengah ke atas,” katanya.

Sukses di Jepang

Sementara itu, Bupati Sleman menceritakan kunjungannya ke Jepang, memenuhi undangan pengusaha tempe Jepang asal Indonesia yang sukses memasarkan produksi tempe ke seluruh kota di Jepang dan memiliki cabang di beberapa negara.

“Pengrajian ini asal Bojonegoro, namun lama bekerja di Sleman, sehingga mengundang Bupati untuk melihat pabrik tempe miliknya. Berkat kegigihan dalam bekerja, orang Indonesia dapat berhasil menjadi pengusaha tempe sukses di negeri orang,” terang Bupati.

Bupati berpesan kepada para anggota Primkopti untuk bekerja keras dan memproduksi tempe yang berkualitas. Sebab, kenyataannya masih banyak produksi tempe yang tidak memenuhi standar, di antaranya tidak memperhatikan kebersihan dan pembuangan limbahnya.

“Mungkin hanya beberapa produsen tempe yang dapat memenuhi kriteria standar SNI. Belum banyak masyarakat yang mengetahui bahwa untuk tataran lokal sejak Oktober 2009 lalu, sebenarnya sudah ditetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk tempe. Kode SNI-nya adalah SNI 3144:2009,” ungkap Sri Purnomo

Dalam standar tersebut, sambungnya, tempe kedelai didefinisikan sebagai produk yang diperoleh dalam fermentasi biji kedelai dengan menggunakan kapang Rhizopus sp, berbentuk padatan kompak, berwarna putih sedikit keabu-abuan, dan berbau khas tempe. Bupati menaruh harapan besar kepada RTI Primkopti sebagai pionir, mengusahakan tempe higienis dan memenuhi standar pangan sehat.