Jogja Kosmopolitan, Berkah Jogja Istimewa

BERKAH - Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Yogyakarta Tri ‘Kelik’ Hastono, saat ditemui di kantornya. Ia berharap, Jogja kosmopolitan dapat semakin menyejahterakan warga. (Foto: Arif Giyanto)
BERKAH – Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Yogyakarta Tri ‘Kelik’ Hastono, saat ditemui di kantornya. Ia berharap, Jogja kosmopolitan dapat semakin menyejahterakan warga. (Foto: Arif Giyanto)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Suasana Kota Jogja yang kini metropolis adalah berkah keistimewaan Yogyakarta. Kini, pengunjung Jogja semakin banyak. Untuk itu, dibutuhkan saling pengertian antara masyarakat dan pemerintah.

“Apabila dibandingkan dengan suasana Kota Jogja pada tahun 1980-an yang masih lengang, sekarang Jogja semakin padat, karena terus ramai dikunjungi. Problem perkotaan yang kemudian muncul menjadi konsekuensi yang harus diselesaikan bersama,” ujar Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Yogyakarta, Tri ‘Kelik’ Hastono, kepada Jogja Daily, pagi ini, Jumat (20/3/2015).

Menurut Kelik, terkadang, sebagian warga menilai, pemerintah kurang peduli, sementara pada kenyataannya, tidaklah demikian. Selama ini, penjelasan Pemerintah belum sampai menyeluruh ke publik.

“Misalnya tentang ruang terbuka hijau. Ada tanah kosong milik perorangan yang kemudian dibeli dan dikelola investor menjadi hotel. Pemerintah Kota tidak memiliki kewenangan untuk melarangnya. Sementara kasat matanya, warga menilai, Kota Jogja terus dipenuhi bangunan komersial, seperti mengabaikan ruang terbuka hijau,” ungkap Kelik.

Penjelasan seperti ini, menurutnya, sangat penting diketengahkan ke publik untuk membangun saling kemengertian. Karena, bagaimana pun, Kota Jogja menjadi sentra utama aktivitas perekonomian warga DIY.

“Kota Jogja memiliki potensi luar biasa. Sudah selayaknya ditulis, didokumentasikan, diberitakan kepada khalayak agar berbuah pencitraan yang baik. Bukan untuk kebaikan pemerintah semata, tapi juga untuk kesejahteraan warga. Semakin Kota Jogja dirasa nyaman dengan penduduknya yang istimewa, kekosmopolitan Jogja tidak akan berbuah persoalan berarti,” tutur Kelik.

Ia berharap, semua stakeholder informasi, baik pemerintah, media, atau warga mampu membangun sinergi untuk terus menyampaikan hal membangun kepada publik Jogja, Indonesia, dan dunia.

“Titik Nol dinilai sebagian warga semakin menyempit. Menurut saya, bukan Titik Nol yang semakin menyempit, tapi pengunjung Malioboro yang semakin banyak. Untuk itu, diperlukan manajemen khusus untuk mengatur kawasan tersebut agar semakin enak dikunjungi,” ucapnya.

Sinergi Pemerintah-Warga

Hal penting lain dari tata-kelola Jogja yang kini metropolis adalah sinergi pemerintah dan warga. Tanpa sinergi, benturan kepentingan akan terasa dan kontraproduktif.

“Misalnya, untuk mengelola area parkir di obyek wisata. Pelibatan masyarakat sebagai tukang parkir sangatlah penting. Bisa saja pemerintah menyewa jasa perparkiran swasta, tapi sinergi pemerintah dan warga tidak terjadi,” terang Kelik.

Pada akhirnya, Jogja kosmopolitan tidak dapat diingkari. Menurut Kelik, tinggal bagaimana pemerintah dan warga Jogja menganggapnya sebagai berkah Jogja Istimewa.