Mengunjungi Wisata Konservasi Habitat Pendaratan Penyu Pesisir Bantul

KONSERVASI PENYU - Pelepasan tukik oleh Kelompok Pemuda Peduli Penyu Pandansimo (KP4) di Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul. (Foto: KP4 Ngentak Poncosari)
KONSERVASI PENYU – Pelepasan tukik oleh Kelompok Pemuda Peduli Penyu Pandansimo (KP4) di Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul. (Foto: KP4 Ngentak Poncosari)

Bantul, JOGJADAILY ** Pesisir Bantul yang menjadi habitat pendaratan penyu, yakni Pantai Pelangi Depok, Pantai Samas, Pantai Goa Cemara, dan Pantai Baru Pandansimo telah ada kelompok konservasinya, atas kesadaran masyarakat. Semua tempat tersebut mudah dijangkau, sehingga menjadi kawasan wisata yang kerap dikunjungi warga.

“Penyu yang mendarat di pantai selatan Kabupaten Bantul, ada beberapa jenis, yaitu Penyu Lekang, Penyu Hijau, Penyu Sisik, dan Penyu Belimbing,” ujar dosen Program Studi Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang juga Ketua Program KKN PPM tematik penyu, Agung Budiantoro.

Menurut Agung, Penyu Lekang paling sering dijumpai mendarat di Pantai Selatan Kabupaten Bantul. Penyu ini mempunyai ciri khas berwarna abu-abu, sehingga sering disebut Penyu Abu-abu. Ukuran tubuhnya relatif lebih kecil daripada jenis lain. Selain itu, ia mempunyai enam pasang atau lebih sisik kostal di bagian punggung dengan warna abu-abu yang menjadi karakteristik pembeda.

“Penyu Lekang secara periodik pada bulan Mei sampai Agustus mendarat di Pantai Bantul. Sebagai tempat pendaratan penyu setiap tahun maka perlu adanya upaya konservasi,” kata Agung.

Upaya tersebut, sambungnya, didukung empat kelompok konservasi dari masyarakat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP), serta perguruan tinggi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui program Kuliah Kerja Nyata Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) tematik konservasi penyu.

“Selain itu, tim hukum dan konservasi dari UAD mulai tahun 2011 sudah mengawal, hingga terbitnya Peraturan Bupati Bantul No. 284 tahun 2014 tentang kawasan konservasi penyu di Bantul,” tuturnya, seperti dirilis Humas UAD.

Pembangunan Fasilitas Umum

Pada 2013, tim KKN-PPM tematik konservasi penyu membangun sarana pendukung kawasan konservasi penyu, seperti pembangunan Gedung Pusdatin (pusat data dan informasi), fasilitas MCK, papan petunjuk informasi tempat-tempat pendaratan yang harus close area di jam-jam tertentu untuk pendaratan penyu, papan penunjuk tempat-tempat wisata edukasi penyu, dan sebagainya.

Selain itu, mengadakan pelatihan bagi pemandu wisata yang tergabung dalam Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) untuk dapat memiliki SDM yang berkualitas dalam pemasaran pariwisata konservasi penyu.

Sementara pada 2014, digelar pelatihan di bidang Excellent Service (Pelayanan Prima) bagi masyarakat Pokdarwis, sosialisasi di kawasan sekitar Kecamatan Sanden, Training of Traner (TOT) berbasis Ekowisata Konservasi Penyu kepada Pokdarwis dan Kelompok Konservasi Penyu, pelatihan pembuatan miniatur terumbu karang sebagai habitat alami penyu.

Selanjutnya, pengumpulan data biologi dan ekologi pendaratan penyu di Pantai Bantul dan pembuatan basis data konservasi penyu sebagai pendukung tempat ekowisata di Pantai Goa Cemara, serta sosialisasi zonasi kawasan konservasi penyu sebagai rencana aksi pasca diberlakukannya Peraturan Bupati Bantul tentang Kawasan Pencadangan Taman Pesisir.

“Saat ini, penyu di dunia hanya tersisa tujuh jenis dan semuanya dikategorikan sebagai spesies yang rawan punah (endangered species). Jenisnya antara lain Penyu Belimbing, Penyu Tempayan, Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Abu, Penyu Pipih, dan Penyu Kempii,” tambah Agung.

Ia mengungkapkan, ada enam jenis penyu yang dapat ditemukan di perairan Indonesia. Penyu-penyu tersebut mendarat untuk bertelur. Salah satu kawasan yang dijadikan pendaratan mereka adalah pesisir selatan Pulau Jawa, termasuk Kabupaten Bantul.