Merti Kali, Kearifan Lokal Masyarakat Yogyakarta Menjaga Sungai

HARUS DIJAGA - Sungai Winongo dilihat dari sebelah utara Jembatan Serangan Wirobrajan. (Foto: Arinkuncahyani WordPress)
HARUS DIJAGA – Sungai Winongo dilihat dari sebelah utara Jembatan Serangan Wirobrajan. (Foto: Arinkuncahyani WordPress)

Kasihan, JOGJADAILY ** Merti Kali (bersih sungai) merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat Yogyakarta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan sungai. Kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur, karena sungai menyokong kegiatan masyarakat sehari-hari.

“Tujuan Merti Kali dalam rangka menumbuhkan rasa kebersamaan, kesadaran dan kepedulian masyarakat maupun pemerintah dalam memelihara serta menjaga kelestarian sungai,” ujar Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY, Joko Wuryantoro, saat peringatan Hari Air Sedunia, di Padukuhan Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Minggu (29/3/2015).

Dirilis Pemkot Yogyakarta, acara digelar oleh Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) bersama seluruh elemen masyarakat Yogyakarta melakukan Merti Kali.

Ketua FKWA, Walji, mengatakan, Merti Kali diikuti 250 orang dan difokuskan di bawah Jembatan Niten. Diharapkan, Sungai Winongo pada khususnya, dan sungai-sungai lain bisa bersih dari sampah.

”Kegiatan ini melibatkan seluruh anggota FKWA Kota Yogyakarta, FKWA Bantul, dan dibantu oleh relawan rescue, masyarakat sekitar, Badan Lingkungan Hidup (BLH), dan komunitas Serayu Opak,” tuturnya.

Wakil Walikota Yogyakarta, Imam Priyono, mengapresiasi kegiatan Merti Kali Winongo tersebut, karena menurutnya, peran serta masyarakat penting. Selama ini, manusia ditengarai sebagai pengambil manfaat terbesar dari sungai.

“Peningkatan kepedulian masyarakat, khususnya masyarakat di seputar sungai adalah dengan kepedulian untuk memberikan dan melestarikan sungai, seperti tidak membuang sampah di sungai, mengambil binatang-binatang sungai atau pun melakukan tindakan merusak habitat sungai, karena itu adalah awal dari timbulnya bencana banjir dan longsor di sungai,” jelasnya.

Menurut Imam, kegiatan seperti Merti Kali Winongo atau kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan masyarakat seputar sungai maupun yang berhubungan dengan upaya pelestarian lingkungan sungai harus terus dilestarikan.

“Kegiatan ini menjadi semangat dalam menjaga kelestarian kali Winongo sekaligus sebagai inspirasi masyarakat luas untuk menjaga kelestarian sungai,” ucap Imam.

Berbasis Masyarakat

Penyelesaian persoalan lingkungan, terutama sungai, membutuhkan partisipasi masyarakat. Tingkat keterlibatan masyarakat tinggi akan menghasilkan tingkat kepuasan masyarakat sebagai penerima manfaat yang luar biasa.

“Sudah saatnya kita melibatkan masyarakat sebagai penerima manfaat saat kita merencanakan suatu program. Metode seperti ini juga merupakan potensi untuk menata permukiman di bantaran sungai untuk mencapai kualitas lingkungan yang lebih baik,” ujar Staf Pengajar Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana, Haryati Bawole Sutanto, dalam laman BLH DIY.

Menurutnya, pemecahan permasalahan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat berarti masyarakat dilibatkan selama proses penyelesaian masalah, sejak tahap perencanaan, pemilihan alternatif penyelesaian masalah sampai penerapan hingga perawatan.

“Pendekatan berbasis masyarakat meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap proses rekonstruksi, karena penerima manfaat mengambil tanggung jawab dalam merekonstruksi kehidupan mereka,” tuturnya.