‘Nandur Wiji Keli’, Pesan Leluhur dalam Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke-268

Peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke-268 di Lapas Sleman. (Foto: Kemenkumham Kanwil DIY)
Peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke-268 di Lapas Sleman. (Foto: Kemenkumham Kanwil DIY)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Ada beberapa pesan penting dari para leluhur dalam peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke-268 yang berlangsung di Pagelaran Keraton Yogyakarta, pada Jumat malam (20/3/2015) lalu.

“Dalam konsep manunggaling kawulo lan gusti, Keraton hendaknya berperan menjembatani antara penguasa dengan rakyatnya melalui komunikasi ulama dan umaro untuk kehidupan yang lebih sejahtera,” ujar Pengageng KHP Wahono Sarto Kriyo KGPH H Hadiwonoto (rayi dalem), mewakili Sabdo Tomo Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam penutupan mujahadah dan semaan Al-Quran.

Ia menyampaikan pesan para leluhur, yakni nandur wiji keli. Artinya, menjadi insan pemberi manfaat bagi sesama, tanpa memandang siapa pun, serta menanam benih kebaikan untuk generasi yang akan datang.

Disampaikan pula sejarah perjuangan, keteladanan, dan kearifan para pendahulu hingga berdirinya Negari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Perjanjian Giyanti pada Kamis Kliwon, 29 Rabiul Awal 1680 H, atau 20 Februari 1755, ditandatangani tiga pihak, yaitu Pemerintah Hindia Belanda (VOC) diwakili Gubernur Nicolas Harting, Kasunanan Surakarta diwakili Susuhunan Paku Buwono III (ketika peristiwa tanda tangan tidak hadir), dan Pangeran Mangkubumi.

Sebulan kemudian, Kamis Kliwon 29 Jumadilakir 1680 H, atau pada tanggal 20 Maret 1755, Pangeran Mangku Bumi mengumumkan berdirinya Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sebagaimana setiap tahun selalu diperingati segenap warga Yogyakarta.

Sebagai penghormatan, usai pembacaan Sabdo Dalem, dilantunkan Gending Gajah Panji, karya Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Dirilis Humas DIY, peringatan berdirinya Nagari Ngayogyakarta ke-268 tersebut dilanjutkan dengan pengajian akbar dan doa oleh KH. Hasyim Muzadi yang mengupas kearifan budaya para aulia dalam penyebaran Islam tanpa kekerasan serta menyelaraskan agama dengan negara.

Busana Jawa Pranakan

Sebelumnya, Pengetan Adeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Kulon Progo digelar Jumat pagi (20/3/2015) di halaman Pemkab Kulon Progo. Dirilis Humas Pemkab Kulon Progo, seluruh PNS di lingkungan Sekretariat Daerah berbusana jawa pranakan.

Menurut Sekretaris Daerah Kulon Progo RM Astungkoro, peringatan dilakukan dengan ikhlas sebagai wujud kesetiaan kawula Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pakaian pranakan merupakan wujud golong gilig dalam melestarikan kebudayaan jawa yang luhur.