One Village One Product, Strategi Eksiskan Bantul sebagai Pusat Kerajinan DIY

FAVORIT - Salah satu destinasi bahari yang menjadi favorit wisatawan, Pantai Indrayanti. (Foto: Arif Giyanto)
FAVORIT – Salah satu destinasi bahari yang menjadi favorit wisatawan, Pantai Indrayanti. (Foto: Arif Giyanto)

Bantul, JOGJADAILY ** Dalam master plan pembangunan, selain pengembangan kawasan wisata dan budaya, Pemerintah Bantul mempunyai program One Village One Product (OVOP) atau Satu Produk Andalan (SPA) untuk setiap desa.

“(Hal tersebut) Untuk meningkatkan potensi desa. Diharapkan, Bantul menjadi pusat kerajinan di DIY dan Indonesia. Diharapkan pula, akan berimbas kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Bantul, Suyoto HS, saat menyambut kunjungan Pemerintah Kota Mojokerto di Gedung Induk Lantai III Komplek Parasamya, Senin (23/3/2015).

Ia menjelaskan, setiap tahun, Bantul didatangi sekitar 5 juta wisatawan. Sejumlah 3 juta di antaranya datang ke Pantai Parangtritis, 1 juta datang ke kawasan budaya seperti desa wisata dan kawasan budaya lain, serta 1 juta lagi datang ke kawasan wisata lain.

“Bantul memiliki pantai sepanjang 13 kilometer. Ini merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa bagi Kabupaten Bantul. Karena, saat ini, sepanjang pantai menjadi kawasan wisata, terutama Pantai Parangtritis menjadi primadona sebagai tempat wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan dan menjadi andalan pula sebagai penyetor PAD terbesar bagi Pemkab Bantul,” terang Suyoto, dirilis Pemkab Bantul.

Rumah Produksi Terpadu

Pemkab Bantul juga berencana membangun rumah produksi batik terpadu di sentra kerajinan batik tulis Giriloyo, Kecamatan Imogiri. Bantul merupakan sentra pengrajin batik DIY, karena hampir 70 persen batik DIY berasal dari Bantul.

Bantul merupakan salah satu daerah di DIY yang memiliki banyak pengrajin batik tulis. Namun hingga saat ini, belum ada penataan rumah produksi. Sejumlah pengrajin masih melakukan produksi secara sederhana di rumah masing-masing.

“Kami sedang mengupayakan rumah produksi terpadu agar dimanfaatkan para pengrajin. Pasalnya, hingga saat ini, aktivitas membatik dilakukan di rumah masing-masing,” tutur Kepala Bidang Perindustrian Disperindagkop Bantul, Kesi Irawati.

Kini, Pemkab bantul sedang melakukan upaya agar rencana pembangunan rumah produksi terpadu terwujud tahun ini. Dengan adanya rumah produksi terpadu, diharapkan Giriloyo menjadi kawasan yang mampu menyerap perhatian wisatawan lokal maupun asing.

“Sudah kami usulkan pada tahun anggaran 2015, dan kami optimis DIY akan mendukung langkah ini (rumah produksi terpadu),” kata Kesi.

Pemkab Bantul berharap, dengan ditetapkannya DIY sebagai Kota Batik Dunia akan membawa dampak positif bagi keberlangsungan produksi batik di Bantul. Hingga kini, terdapat 612 Industri Kecil Menengah (IKM) di Bantul.