Pendidikan Bahasa Indonesia, Sebuah Penegasan Jatidiri Bangsa

Aku Cinta Bahasa Indonesia. (Foto: Goresan Anjrahlelono Broto WordPress)
Aku Cinta Bahasa Indonesia. (Foto: Goresan Anjrahlelono Broto WordPress)

BAHASA Inggris adalah hidangan ornamental. Ia memang telah menguasai seluruh produk yang kita beli dan kita gunakan, untuk kepentingan pribadi dan kepentingan membangun bangsa.

Peran pemuda Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun ini, dengan polemik yang ‘tersangkut’ hingga urusan bahasa menjadi sebuah pembicaraan dari yang nyata ke abstraksi. Mungkin bisa dibilang seperti ini; mana yang nyata ada? Yang tak tersentuh seperti bahasa atau yang tersentuh seperti mobil (ekonomi)?

Kita mesti ingat sepotong larik Indonesia Raya, bangunlah jiwanya… bangunlah badannya… untuk Indonesia Raya. Yang dibangun lebih dahulu adalah jiwa, baru kemudian badan. Bahasa adalah pembentuk jiwa sebagai identitas kedirian. Dan kebutuhan ekonomi seperti kemewahan mobil adalah urusan badani.

Bahasa Inggris hadir hanya sebagai gincu atau pemikat. Tapi, namanya masyarakat penggila penampilan, gincu sebagai pemikat sepertinya adalah hal wajib. Pada kenyataannya, belajar Bahasa Inggris merupakan kemampuan yang berarah ke angka. Angka jaminan dalam ujian. Misalnya, tes TOEFL atau IELTS untuk syarat melamar pekerjaan.

Ketika seseorang sudah bekerja, pada kenyataannya mereka berhadapan dengan masyarakat Indonesia yang tak memiliki kebiasaan ber-Inggris. Karena itu, Bahasa Inggris adalah hidangan yang ornamental belaka. Belajar bahasa Inggris tak lagi soal kemampuan untuk memperlajarinya dengan ambisi intelektual, akan tetapi sebagai ambisi untuk mendapat dan menimbun angka (baca: nilai ujian dan nominal uang).

Peran bahasa Inggris sangatlah nyata dalam kehidupan ekonomi di Indonesia. Dia memikat publik Indonesia dengan citra modern. Misalnya, dalam ranah pariwisata, banyak yang memilih menamai acara dengan Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris adalah gincu untuk memberi citra modernitas serta kemajuan. Bahasa Inggris, yang dari asalnya digunakan untuk membangun berbagai aspek kehidupan, kini di Indonesia direduksi sebagai bahasa ekonomi saja. Kasihan.

Soedjatmoko dalam Menjadi Bangsa Terdidik (2010) menulis, Bahasa Inggris meningkat untuk digunakan dalam pembicaraan-pembicaraan di dalam sebuah diskusi dan ketika membicarakan masalah-masalah ilmiah yang sulit.

Ia mengatakan bahwa kita harus menjaga supaya tidak lagi kembali kepada hierarki bahasa zaman kolonial. Saat itu, bahasa daerah menjadi bahasa rendah, Bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi kedua, dan Bahasa Belanda sebagai sebagai alat untuk menguasai ilmu pengetahuan modern serta untuk masuk dalam golongan elite Bumiputera.

Bukankah Bahasa Inggris saat ini hampir seperti kasus yang dituliskan Soedjatmoko?

Sekarang menjadi jelas bahwa penguasaan ilmu pengetahuan memerlukan suatu kemampuan terjemahan ilmiah yang besar dan berlembaga. Salah satunya meningkatkan kehidupan intelektual yang bergairah dengan peningkatan jumlah penerbitan bermutu. Jika Jepang meraih modernisasi memakai bahasanya sendiri maka tak ada satu penerbitan ilmiah dan sastra yang penting di dunia, yang dalam waktu singkat tidak dipasarkan dengan Bahasa Jepang. Dan mereka berhasil. Lihat saja, anak muda kita sangat gandrung dengan Manga, Otaku, juga film Anime.

Pendidikan Bahasa Indonesia?

Sebenarnya, bila ditelisik dalam antropologi Bahasa Indonesia, bahasa ibu atau bahasa daerahlah sebagai bahasa pertama yang digunakan, lalu barulah Bahasa Inggris. Jika ada orang berbahasa Indonesia datang di desa yang jauh dari kota, orang desa biasanya akan memberi tuduhan sok kepadanya. Tapi anehnya, saat ada orang mencampurkan bahasa Inggris, ada rasa ‘wah’.

Tak usah jauh-jauh ke desa. Di lingkungan kota yang dominan orang Jawa saja, hal ini sering sekali terjadi. Kombinasi javanglish (Java-English) begitu mudahnya terjadi dalam percakapan dan orang-orang bersikap permisif.

Juga kecerobohan pemakaian bahasa, mencerminkan kurang adanya rasa tanggung jawab pribadi masing-masing demi pengembangan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tersebut sering di-indoglish-kan ke dalam banyak hal, seperti spanduk, pamflet, judul buku, nama komunitas, nama gerakan, jajanan, nama barang, nama warung, nama toko, baliho pemerintah yang keminggris berjejer rapi di jalan-jalan.

Lalu apa yang salah dengan pendidikan bahasa Indonesia kita?

Banyak pemuda membuat komunitas dengan nama Bahasa Inggris. Kalau tak percaya, tengok saja ke acara car free day. Gagasan pemuda menghadapi MEA dengan mengukuhkan jatidiri keindonesiaan lewat bahasa adalah mitos. Apalagi saat Bahasa Indonesia ‘dipertempurkan’ dalam bidang ekonomi. Ia akan selalu babak-belur.

Tapi, dari sekian ‘miliar’ nama warung PKL dengan Bahasa Inggris, mereka tetap berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Terbukti, Bahasa Inggris adalah hidangan ornamental.

Bahasa Inggris di negeri ini direduksi habis-habisan. Para Sarjana Bahasa dan Sastra Inggris wajib turut terjun dalam ‘pertempuran’ di Ladang Kurusetra Bahasa ini. Memberi penerangan dan penyaringan kepada publik. Jadi, tidak hanya bergelar palsu dalam sebuah sistem sosial yang sakit. Sakit.