Peringati Serangan Umum 1 Maret, Petugas Monumen Yogya Kembali Berkostum Pejuang

KOSTUM PEJUANG - Fotografer Jogja Daily, Marlina Giyanto, berfoto bersama petugas Monumen Yogya Kembali, Minggu (1/3/2015). (Foto: Arif Giyanto)
KOSTUM PEJUANG – Fotografer Jogja Daily, Marlina Giyanto, berfoto bersama petugas Monumen Yogya Kembali, Minggu (1/3/2015). (Foto: Arif Giyanto)

Sleman, JOGJADAILY ** Apabila Anda berkunjung ke Monumen Yogya Kembali (MYK) hari ini, Minggu (1/3/2015), atau bertepatan dengan peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949, tentu merasa gembira lantaran tiket masuk didiskon setengah dari harga biasa.

Anda diwajibkan membayar Rp10 ribu per orang pada hari biasa, sementara hari ini, Anda cukup membayar setengahnya.

“Tiket didiskon setengah dari harga karena memeringati Serangan Umum 1 Maret 1949,” ujar penjaga loket masuk MYK dengan tersenyum.

Bukan tanpa alasan tentu MYK melakukan hal tersebut. Selain memberi respek tinggi pada momentum kembalinya Yogyakarta ke pangkuan Republik Indonesia setelah sekian waktu diduduki Belanda, kejutan bagi pengunjung MYK adalah hal menarik selanjutnya.

Di samping harga tiket yang didiskon 50 persen, para pengunjung juga disapa dengan para petugas MYK yang mengenakan kostum pejuang. Tidak hanya di bagian informasi, semua petugas memang diwajibkan untuk tampil bak pejuang hari ini. Suasana perjuangan merebut kembali Yogyakarta dihadirkan kembali oleh MYK dengan sungguh-sungguh.

Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap Kota Yogyakarta dilancarkan besar-besaran untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang berarti juga Republik Indonesia, masih ada dan cukup kuat.

Hal tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan di Dewan Keamanan PBB, serta mematahkan moral pasukan Belanda.

Museum Inspiratif

Strategi MYK untuk menghadirkan kembali suasana perjuangan merebut Yogyakarta pada 1949 layak diapresiasi. Museum bukan hanya tempat benda-benda mati yang tidak berarti. Selain sangat menunjang bagi pendidikan, museum juga inspiratif.

“Adalah salah memersepsikan bahwa museum dikunjungi karena benda-benda mati. Benda-benda ini memiliki makna kesejarahan yang mengandung nilai-nilai tertentu. Museum dapat menginspirasi pengunjung bila mampu menyajikan spirit yang terkandung berupa perjuangan, kerja keras, dan tingginya keilmuan di masa lalu,” ujar Ketua Umum Barahmus DIY, Prof Suratman Woro Suprojo, kepada Jogja Daily beberapa waktu lalu di rektorat UGM.

Kepala Museum Gumuk Pasir Fakultas Geografi UGM tersebut menjelaskan, inspirasi yang muncul setelah berkunjung ke museum dapat melahirkan harapan hidup, bekal penting seseorang menjalani hidup.

“Semisal pengunjung datang ke Museum Perjuangan, semangat hidupnya akan berkobar-kobar. Kalau ia datang ke Museum Bahari, ia akan semakin mencintai Nusantara. Artinya, museum dapat membentuk karakter generasi penerus yang penuh dedikasi dan integritas,” terang Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat itu.

Suratman menekankan penyajian materi kemuseuman yang harus terus inovatif. Karena zaman terus berkembang dan dinamika masyarakat semakin kompleks, museum menjadi tempat yang layak dikunjungi untuk mempertahankan nilai-nilai dan karakter daerah, serta kebangsaan.