Pertahankan Citra Tujuan Wisata, Kota Jogja Butuh Manajemen Transportasi Khusus

PENATAAN - Jalan Malioboro, salah satu magnet kuat wisatawan untuk datang ke Jogja. (Foto: UKDW)
PENATAAN – Jalan Malioboro, salah satu magnet kuat wisatawan untuk datang ke Jogja. (Foto: UKDW)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Untuk mempertahankan citra Kota Jogja sebagai tujuan wisata nasional, dibutuhkan manajemen transportasi lebih khusus, daripada yang telah dilakukan sekarang. Karena, kenyamanan wisatawan dengan pelayanan transportasi prima akan semakin memperkuat branding pariwisata yang berimpak pada terus membanjirnya wisatawan ke Jogja.

“Jogja sebagai Kota Budaya atau Jogja sebagai Kota Pendidikan telah berhasil dicapai. Kini saatnya menyelesaikan persoalan yang muncul setelah Jogja mulai padat dengan aktivitas pariwisata atau penunjangnya,” ujar Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta, Affrio Sunarno, kepada Jogja Daily, di Taman, beberapa waktu lalu.

Affrio menjelaskan, manajemen transportasi kota adalah masalah yang dihadapi hampir semua kota metropolis di dunia. Menyusul Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Malang, Kota Jogja telah waktunya concern pada tata-kelola transportasi kota, karena faktanya, wisatawan yang datang semakin banyak.

“Semua kota punya tingkat kesulitan masing-masing. Tapi prinsipnya, kita harus belajar dari kota-kota besar dunia yang berhasil mengatasi kepadatan dan kemacetan kota, untuk memanjakan wisatawan yang berkunjung,” ucapnya.

Misalnya, sambung Affrio, membedakan maintenance transportasi saat low season dan peak season. Saat hari biasa, biasanya pada jam-jam khusus, jalanan Kota Jogja padat oleh kendaraan, meski masih dalam tahap wajar.

“Akan tetapi, pada saat liburan datang, sebaiknya diberlakukan tata-kelola transportasi yang lebih rigid, untuk menjamin kenyamanan wisatawan yang tengah berkunjung. Regulasi tersebut harus diambil berdasarkan aspirasi stakeholder terkait, terutama para pelaku transportasi yang bersinggungan langsung dengan wisatawan, serta tukang parkir atau pendukung lain,” jelas Affrio.

Hal yang selalu menjadi pertimbangan utama, sambungnya, menyelesaikan problem metropolis Kota Jogja tidak melulu tentang perekonomian. Ia menegaskan, faktor sosial dan budaya sangat menentukan bagi keberlanjutan sebuah kebijakan publik.

“Keistimewaan Jogja dengan nilai-nilai luhur yang istimewa menjadi fondasi penting menyelesaikan masalah perkotaan, seperti kemacetan, sampah, hunian, kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Dialog sangatlah penting untuk memverifikasi program,” tutur Affrio.

Dominasi Sepeda Motor

Suhendik, mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) dalam paper berjudul ‘Kemacetan Lalu Lintas di Yogyakarta’ mengutip data Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, rata-rata setiap bulan terjual 6000 sepeda motor di Kota Yogyakarta. Sepeda motor menjadi transportasi dominan di Kota Jogja, yaitu 79,72 persen dari 211.322 kendaraan pada 2001.

Secara umum, pertambahan sepeda motor lebih pesat dibandingkan kendaraan roda empat. Setiap tahun, jumlah kendaraan roda dua bertambah sekitar 11,8 persen, sementara kendaraan roda empat hanya 6,9 persen. Padahal, panjang jalan di Kota Jogja hanya 224,86 kilometer.

One thought on “Pertahankan Citra Tujuan Wisata, Kota Jogja Butuh Manajemen Transportasi Khusus

  1. Wah, setuju banget. Apapun kebijakannya, apapun rencananya….. mestinya semua diajak omong. Aspirasi itu penting dan harus dihormati. Kalau pas liburan Jogja tidak macet itu baru istimewa. Kalau transportasi wisata nyaman, aman tanpa preman boleh kita bangga. Apalagi kalau bisa menjangkau seluruh Jogja baik saat sepi wisatawan maupun ramai wisatawan. Jangan seperti nJeron Beteng yang diaturnya kok parsial gitu. Atau seperti TansJogja yang mubeng minger begitu? Jogja istimewa jika transportasi wisata juga istimewa.

Comments are closed.