Program Pengabdian Masyarakat, Cara Kampus Yogyakarta Berkontribusi pada Indonesia

PEMBERDAYAAN - Akademisi UGM Gatot Murdjito dalam sebuah forum ilmiah. Gatot berharap, kampus-kampus di Yogyakarta mengaktifkan Program Pemberdayaan Masyarakat. (Foto: Fapet UGM)
PEMBERDAYAAN – Akademisi UGM Gatot Murdjito dalam sebuah forum ilmiah. Gatot berharap, kampus-kampus di Yogyakarta mengaktifkan Program Pemberdayaan Masyarakat. (Foto: Fapet UGM)

Sleman, JOGJADAILY ** Julukan Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan tentu bukan tanpa sebab. Ada 106 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan 5 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berdiri di sini. Jogja menjadi tempat bertemunya generasi muda seluruh Nusantara.

Kampus di Jogja diharapkan mampu memberikan kontribusi besar bagi Indonesia; tempat memulai perbaikan negeri dengan mengaktifkan program-program pengabdian masyarakat. Salah satunya, program KKN yang mengangkat tema kebutuhan masyarakat, sehingga benar-benar memberikan solusi, bukan justru menambah permasalahan.

“Benteng terakhir bangsa Indonesia adalah kampus. Kalau kampusnya saja memble, ya sudah. Makanya saya terus mendorong supaya pengabdian masyarakat sejajar dengan penelitian,” ujar akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Gatot Murdjito, saat Workshop Meraih Hibah KKN PPM DIKTI yang diselenggarakan DPPM UII di Gedung Prof. Dr. Abdul Kahar Mudzakkir, Selasa (17/3/2015).

Ia mengatakan, saat ini, pengabdian masyarakat masih belum sepenuhnya sejajar dengan penelitian. Sebagai contoh, dalam kurikulum pendidikan, ada mata kuliah khusus tentang metodologi penelitian, akan tetapi tidak ada yang membahas tentang metodologi pengabdian.

“Saya berharap, perguruan tinggi dapat mulai memberikan perhatian yang besar pada pengabdian masyarakat. Salah satunya dengan mengadakan perkuliahan terkait metodologi pengabdian,” terang Gatot, seperti dirilis Universitas Islam Indonesia (UII).

Sebagai pemateri tunggal dalam workshop tersebut, Gatot menyampaikan, konsep UII memasukkan Dakwah Islamiyah untuk melengkapi Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga menjadi Catur Dharma adalah konsep baik, apalagi jika dapat diimplementasikan dengan baik di masyarakat.

“Saya sangat senang UII menjadikan Dakwah Islamiyah sebagai Catur Dharma. Apalagi kalau bisa dilaksanakan dengan baik. Dalam pengabdian masyarakat, yang pertama harus dimiliki adalah dengan menyukai aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan pengabdian masyarakat itu sendiri. Dengan begitu, akan banyak yang bisa kita lakukan di masyarakat,” ucap Gatot.

Maksimalkan Program KKN

Masih banyaknya permasalahan di masyarakat, terutama masyarakat perdesaan, menuntut kalangan akademisi, termasuk sivitas akademika UII untuk meningkatkan peran dalam bentuk pengabdian masyarakat.

Baik dosen maupun mahasiswa UII terus didorong memanfaatkan program KKN secara maksimal sebagai sarana strategis UII dalam mewujudkan misi besar UII, yaitu menjadi kampus yang rahmatan lil’alamin. Salah satunya, dengan melakukan penelitian dalam program Hibah KKN PPM yang didanai oleh DIKTI.

“Keikutsertaan dosen-dosen UII dalam Program Hibah KKN PPM DIKTI tersebut, saat ini masih minim walaupun setiap tahun menurunkan sekitar 5.000 mahasiswa yang tersebar di 300-350 titik di desa-desa, baik DIY maupun Jawa Tengah,” ungkap Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII, Prof. Ahmad Fauzy.