Sambut Undang-Undang Desa, Pemkab Kulon Progo dan UKDW Sepakati Kerja Sama

GAGAS DESA - Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo dan Rektor UKDW Henry Feriadi saat menandatangani kesepakatan kerja sama di Rumah Dinas Bupati, Senin (23/3/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)
GAGAS DESA – Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo dan Rektor UKDW Henry Feriadi saat menandatangani kesepakatan kerja sama di Rumah Dinas Bupati, Senin (23/3/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Kulon Progo, JOGJADAILY ** Kehadiran Perguruan Tinggi (PT) bagi masyarakat sangatlah penting dan besar manfaatnya, serta dapat berperan sebagai fasilitator. Misalnya, pada konteks penerapan Undang-Undang Desa yang memberikan pengaruh besar pada Pemerintahan Desa.

“Manajemen dan akuntansi di desa saat ini sama persis dengan manajemen Pemerintah Kabupaten, sehingga sangat memerlukan bimbingan dan pendampingan,” ujar Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo saat penandatanganan kesepakatan kerja sama Bidang Pendidikan, Pengkajian, dan Penelitian serta Pengabdian Masyarakat dengan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) di Rumah Dinas Bupati, Senin (23/3/2015).

Menurut Bupati, meski Pemerintah Daerah adalah pelaku pemerintahan, tapi terkadang metode berpikirnya tidak ilmiah, sehingga metode pemecahan permasalahan sering kali salah, karena tidak dengan hierarki ilmiah yang benar.

“Sehingga hadirnya PT sangat besar manfaatnya,” kata Hasto, seperti dirilis Pemkab Kulon Progo.

Ia mengibaratkan kepala desa saat ini seperti ‘bupati kecil’. Bekerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki manajemen dan akuntansi, menurutnya, masalah pengelolaan keuangan dapat menjadi lebih baik.

“Saya kira ini sebagai material teaching yang luar biasa. Seandainya desa bisa di-create untuk melakukan suatu metode manajemen yang baik,” tutur Bupati Hasto.

Peran PT juga sangat diperlukan dalam pengentasan kemiskinan. Karena, saat ini belum ada yang memiliki best practise.

KKN dengan Kearifan Lokal

Sementara itu, Rektor UKDW Henry Feriadi, menyampaikan, sebenarnya Kulon Progo bukan partner baru. Dimulai beberapa tahun lalu, KKN dengan konsep (service learning) di Banjaroyo Kalibawang, dengan konsep melakukan kegiatan di satu wilayah selama tiga tahun berturut-turut.

“Tidak seperti KKN zaman dahulu yang hanya fisik, sekarang lebih diperkuat dengan kearifan lokal. Lebih banyak mendengar kearifan lokal, dengan live in program, seperti pelestarian, merti belik, dan penguatan industri kecil,” terang Henry.

Rektor yang membawahi 3.800 mahasiswa tersebut juga menyampaikan, kini tengah memperkuat pengembangan Herbal Medicine dan Teknologi Informasi (IT).