Sektor Tumpuan, Pertanian Sleman Butuh Manajemen Irigasi Berkelanjutan

HEMAT AIR – Kampanye Hemat Air di Embung Sendari, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, 14 Maret 2015. (Foto: Dinas SDAEM Sleman)
HEMAT AIR – Kampanye Hemat Air di Embung Sendari, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, 14 Maret 2015. (Foto: Dinas SDAEM Sleman)

Mlati, JOGJADAILY ** Irigasi memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertanian wilayah Kabupaten Sleman. Pasalnya, pertanian masih menjadi sektor tumpuan, dengan masyarakat yang bekerja pada sektor tersebut mencapai 23,56 persen.

“Masyarakat perlu terus diedukasi tentang pentingnya menjaga irigasi pertanian. Selain itu, masyarakat juga harus memahami bahwa sampah yang dibuang di saluran irigasi akan memiliki dampak yang buruk bagi pertanian,” ujar Sekretaris Dinas Sumber Daya Air dan Energi Mineral (SDAEM), Aji Wulantoro, saat sarasehan peringatan Hari Air se-dunia 2015, Minggu (22/3/2015) di Embung Tirtomoyo Pundong III, Tirtoadi, Mlati, Sleman.

Dirilis Humas Pemkab Sleman, Aji menjelaskan, pihaknya terus meningkatkan kualitas sarana pengairan dengan membangun dan memelihara sarana pengairan, berupa sungai dan sempadan sungai, bendung, embung, dan daerah irigasi.

“Kualitas bendung dengan kategori sederhana telah ditingkatkan menjadi bendung teknis atau permanen, sehingga jumlahnya meningkat dari 954 buah pada tahun 2010 menjadi 959 buah tahun 2014. Secara kualitas, kondisi bendung permanen meningkat dari 63,28 persen menjadi 73,76 persen,” papar Aji.

Sarasehan menghadirkan narasumber Prof Sigit Supadmo Arif dan Edi Harmatno, dengan peserta seluruh pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) se-Kabupaten Sleman.

Kampanye Hemat Air

Sebelumnya, Dinas SDAEM menggelar Kampanye Hemat Air pada 14 Maret 2015 bertempat di Embung Sendari, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman.

Selain sarasehan, dilakukan penebaran benih ikan, penanaman bibit pohon, diskusi tanya jawab dengan masyarakat, serta peragaaan alat pemanen hujan. Materi sarasehan yang diketengahkan adalah ‘Hemat Air untuk Budidaya Perikanan’ oleh Ign. Hardaningsih, ‘Tata Cara Penghematan Air Tanah’ oleh Heru Hendrayana dari Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, ‘Metode Memanen Hujan oleh Agus Maryono, serta ‘Hemat Air untuk Pertanian’ oleh Prof Sigit Supadmo Arif.

Dirangkum dari Peraturan Menteri ESDM No. 15 Tahun 2012 tentang Hemat Air Tanah serta Rancangan Peraturan Gubernur DIY tentang Penghematan Air Tanah 2014, tata cara penghematan penggunaan air tanah meliputi penggunaan air tanah yang dilakukan instansi pemerintah maupun pemegang izin pemakaian dan izin pengusahaan air tanah, serta masyarakat pengguna air tanah.

Penghematan penggunaan air tanah oleh pengguna air tanah dilakukan dengan menggunakan air tanah secara efektif dan efisien untuk berbagai macam kebutuhan; mengurangi penggunaan air tanah; menggunakan kembali air tanah; mendaur ulang air tanah; mengambil air tanah sesuai dengan kebutuhan; menggunakan air tanah sebagai alternatif terakhir.

Selain itu, mengembangkan dan menerapkan teknologi hemat air; memberikan insentif bagi pelaku penghematan air tanah, dan atau memberikan disinsentif bagi pelaku pemborosan air tanah.