Swasembada Pangan Nasional, Sleman Diharapkan Mampu Produksi 10 Ton Padi

BANTUAN - Sebanyak 113 kelompok tani mendapat bantuan sarana dan prasarana pertanian, perikanan, dan kehutanan senilai Rp2,32 miliar. Penyerahan dilakukan Bupati Sleman di halaman kantor Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Kamis (19/3/2015). (Foto: Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Sleman)
BANTUAN – Sebanyak 113 kelompok tani mendapat bantuan sarana dan prasarana senilai Rp2,32 miliar. Penyerahan dilakukan Bupati Sleman di halaman kantor Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Kamis (19/3/2015). (Foto: Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Sleman)

Sleman, JOGJADAILY ** Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian (Irjen Kementan), Azis Hidayat, berharap, Sleman mampu produksi 10 ton Gabah Kering Panen per hektar (GKP/ha). Sebagai referensi, produktivitas Bantul mencapai lebih dari 11 ton GKP/ha.

“Pencapaian hasil tersebut tidak lepas dari penerapan inovasi teknologi yang dikembangkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta,” ujarnya saat panen raya Inpari 10 di Dusun Karongan, Desa Jogotirto, Berbah, Sleman, Kamis (19/3/2015), seperti dirilis BPTP Yogyakarta.

Dalam rangka swasembada, pada 2015, Indonesia menargetkan produksi padi hingga 73,4 juta ton, dengan produktivitas nasional rata-rata sebesar 52,09 ku/ha. Produktivitas rata-rata baru mencapai 50,82 ku/ha, sedangkan potensi hasil beberapa varietas padi yang telah tersebar produktivitasnya mencapai lebih dari 7 ton/ha.

Mengantisipasi kesenjangan produktivitas tersebut, International Rice Research Institute (IRRI) menginisiasi Closing Rice Yield Gaps in Asia (CORIGAP) di DIY dan Sumatera Selatan.

Pelaksanaan pilot project CORIGAP DIY digelar di wilayah Kabupaten Sleman. IRRI bekerja sama dengan BPTP Yogyakarta dan Kelompok Tani Sedyo Maju, Dusun Karongan, Desa Jogotirto Berbah, serta Kelompok Tani Manunggal Patran, Dusun Kentingan, Desa Madurejo, Prambanan. Proyek ini mencakup kawasan seluas lebih dari 76 ha dan melibatkan lebih dari 100 petani.

Teknologi yang diterapkan merupakan teknologi spesifik lokasi berbasis Konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), dengan menerapkan komponen teknologi dasar dan beberapa teknologi pilihan.

Inovasi teknologi tersebut antara lain penggunaan varietas unggul Inpari 6 Jete dan Inpari 10 Laeya, pengaturan pengairan menggunakan AWD (alternate wetting and drying atau pengairan basah-kering), sistem tanam Tabela (Tanam Benih Langsung) dan Tajarwo (Tanam Jajar Legowo).

Bupati Sleman, Sri Poernomo, berpesan kepada anggota kelompok tani untuk terus belajar dan tidak sungkan menimba ilmu kepada BPTP Yogyakarta.

“Bilamana produktivitas dapat ditingkatkan maka Sleman akan mempertahankan swasembada padi, sehingga dapat menopang ketahanan pangan dan kedaulatan pangan, serta dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Bantuan Pertanian

Pada hari yang sama di tempat berbeda, sebanyak 113 kelompok tani di Kabupaten Sleman mendapat bantuan sarana dan prasarana pertanian, perikanan, dan kehutanan senilai Rp2,32 miliar. Penyerahan dilakukan Bupati Sleman di halaman kantor Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman.

Walau tidak mungkin membuka lahan baru, dengan intensifikasi, Bupati berharap dapat memenuhi target swasembada beras, jagung, dan kedelai.

Bantuan yang diserahkan terdiri dari 25 buah pompa air untuk 25 kelompok dan 80 buah traktor dari dana APBN dan 8 buah traktor dari dana APBD Sleman untuk 80 kelompok.

Menurut Kabid Tanaman Pangan DIY, Sarworini Setyobudi Astuti, DIY mendapat bantuan 125 traktor dan 80 buah untuk Kabupaten Sleman. Ia menyampaikan pesan dari Presiden melalui Kementerian Pertanian bahwa bantuan alat pertanian dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.

“Bila perlu bisa disewakan dan uang hasil sewa bisa dimanfaatkan kelompok. Alat pertanian juga harus dijaga dan dipelihara, sehingga harapan pemerintah pusat dalam waktu tiga tahun Indonesia dapat swasembada beras, jagung, dan kedelai,” terang Sarworini.