Wiwitan, Kebersamaan Jelang Panen Raya Masyarakat Rejowinangun Kotagede

KEBERSAMAAN - Wakil Walikota Yogyakarta, Imam Priyono, saat turut dalam tradisi wiwitan di Rejowinangun Kotagede, Kamis pagi (19/3/2015). (Foto: Pemkot Yogyakarta)
KEBERSAMAAN – Wakil Walikota Yogyakarta, Imam Priyono, saat turut dalam tradisi wiwitan di Rejowinangun Kotagede, Kamis pagi (19/3/2015). (Foto: Pemkot Yogyakarta)

Kotagede, JOGJADAILY ** Setiap kali menjelang panen, masyarakat tani Rejowinangun Kotagede menggelar tradisi ‘wiwitan’. ‘Wiwit’ atau ada pula yang menyebutnya ‘wiwitan’ merupakan upacara tradisi turun-temurun yang dilakukan keluarga petani menjelang musim panen atau pada awal musim panen padi.

“Tradisi tersebut biasanya dilakukan menjelang masa panen. Bagi warga setempat, tradisi wiwit merupakan wujud terima kasih kepada Tuhan sebagai simbol kesuburan atas limpahan hasil bumi melalui panen,” ujar Ketua kampung wisata Rejowinangun, Agus Budi Santosa, Kamis pagi (19/3/2015), seperti dirilis Pemerintah Kota Yogyakarta.

Agus menjelaskan, Setiap hasil bumi dan olahannya dalam sesaji mempunyai makna tersendiri yang pada intinya mengajarkan untuk sabar, syukur, dan berbuat kebajikan kepada sesama, sesuai keyakinan warga setempat.

Menurutnya, tradisi wiwit beranjak luntur seiring berjalannya zaman. Sebagai generasi yang dituakan di kampungnya, ia berkewajiban mempertahankan tradisi turun-temurun tersebut.

“Di Yogya dan sekitarnya, upacara tradisi wiwit yang sebelumnya sempat nyaris hilang tergerus zaman harus kita bangkitkan kembali, meskipun tatacara dan ubo rampe (perlengkapan) wiwit tidak lagi seragam seperti dulu, namun hal-hal pokok dalam ritual wiwit tetap dilakukan,” katanya.

Daya Tarik Wisata

Sementara itu, Wakil Walikota Yogyakarta, Imam Priyono, menyatakan apresiasi atas penyelenggaraan budaya wiwit yang diadakan warga Kelurahan Rejowinangun. Karena, selain bisa menyatukan petani, kegiatan ini juga dianggap melestarikan budaya.

“Jika dikemas lebih menarik, saya optimistis upacara tradisi ini mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Dengan demikian, masyarakat bisa mendapat keuntungan ganda, tidak hanya dari produksi panen, tapi juga kedatangan wisatawan, bisa mendongkrak sektor perekonomian warga,” tutur Imam.

Salah satu petani, Ngatijo, mengaku senang dengan digelarnya wiwit secara bersama, karena mereka bisa berkumpul dan mempererat kebersamaan. Ia pun selalu ikut dalam penyelenggaraan upacara wiwit yang sudah diadakan dua kali tersebut.

“Alhamdulillah. Panen kali ini bisa bagus, lebih baik dari sebelumnya,” ucap Ngatijo.