1000 Peserta Jambore Siaran Nasional Tanam Pohon Langka di Imogiri

Boekit Hijau Bantul. (Foto: Pemkab Bantul)
Boekit Hijau Bantul. (Foto: Pemkab Bantul)

Imogiri, JOGJADAILY ** Pada Kamis (9/4/2015), sejumlah 1.000 peserta Jambore Siaran Nasional (Jamsinas) dari seluruh Indonesia menggelar penanaman pohon langka di Boekit Hijau Karangtengah, Imogiri, Bantul. Anggota Jamsinas membawa bibit dari daerahnya masing-masing.

“Kami sampaikan pesan kepada Pemerintah Bantul dan masyarakat sekitar Bukit Hijau untuk menjaga dan melestarikan tanaman dari anggota Jamsinas, khususnya agar bermanfaat bagi pelestarian alam, khususnya di Bantul,” ujar Ketua Rombongan Jamsinas yang juga Direktur LPP RRI Pusat, Rosarita Niken Widyastuti.

Ia menuturkan, Jamsinas dilaksanakan dua tahun sekali. Kegiatan kali ini merupakan tahun keempat dan dilaksanakan di Yogyakarta. Peserta Jamsinas terdiri dari insan radio RRI dari seluruh Indonesia, sebanyak 87 radio.

“Jamsinas berlangsung 7-10 April 2015 dengan beberapa agenda kegiatan, di antaranya ada beberapa lomba yang kami pusatkan di Gedung Vredeberg Yogyakarta. Sedangkan kegiatan yang terkait terhadap kepedulian lingkungan, yaitu menanam pohon langka di Bukit Hijau Bantul ini,” kata Rosarita.

Dirilis Pemkab Bantul, kedatangan Jamsinas diterima Asisten Umum Kabupaten Bantul Sunarto, mewakili Bupati Bantul, Jajaran Forkompinda Bantul, Jajaran Muspika Imogiri, dan tamu undangan lain.

Membacakan sambutan Bupati Bantul, Sunarto menyampaikan terima kasih kepada Jamsinas yang telah melakukan penanaman pohon langka.

“Kegiatan ini tentu merupakan salah satu kontribusi nyata kita bersama yang peduli terhadap perbaikan lingkungan. Oleh sebab itu, kegiatan ini merupakan modal yang sangat berharga untuk kita kembangkan lebih lanjut agar menjadi budaya bangsa, yaitu budaya menanam pohon,” ucapnya.

Bupati mengatakan, kegiatan ini belum seberapa, dibanding luasnya hutan dan lahan yang rusak. Namun demikian, upaya tersebut sangat berharga apabila dilaksanakan secara terus-menerus dan dipelihara dengan penuh kesungguhan, sehingga setiap pohon yang ditanam dapat hidup dan tumbuh subur.

“Pohon yang kita tanam pada hari ini baru dapat kita rasakan manfaatnya beberapa tahun yang akan datang. Nantinya anak dan cucu kita yang akan memetik hasilnya, yaitu dapat menikmati kualitas lingkungan yang sehat dan terhindar dari berbagai bencana,” terang Sunarto.

Usai penanaman pohon, rombongan melanjutkan perjalanan ke showroom batik Wijirejo Pandak, diteruskan ke Pantai Depok untuk melakukan lomba layang-layang serta menyerahkan bantuan buku kepada masyarakat Depok.

Pengelolaan Hutan

Pemerintah baru perlu mendorong perubahan paradigma pembangunan ekosistem berbasis pembangunan berkelanjutan. Paradigma pembangunan saat ini hanya menghasilkan pembangunan yang tidak berkelanjutan, karena merusak lingkungan, menguras sumberdaya alam, bahkan meningkatkan jumlah angka kemiskinan.

Oleh sebab itu, diperlukan perubahan mindset pembangunan sektor kehutanan dengan titik berat regulasi yang berpihak pada tatakelola yang baik, termasuk kepastian usaha dan pemerataan akses sumberdaya hutan, lalu melakukan pembangunan SDM dan riset yang berarah pada upaya pengelolaan hutan lestari.

“Terutama menyangkut downstream process,” ujar Pakar Kehutanan UGM, Prof. Mohammad Na’iem, dilansir Humas UGM.

Intervensi kebijakan juga diperlukan untuk menjamin perbaikan pengelolaan hutan Indonesia secara fundamental. Antara lain dengan menyediakan benih dan bibit unggul, tenaga kerja yang andal dalam jumlah cukup dan mendapat gaji yang layak.

“Perlu ada terobosan dalam keberpihakan paradigma terhadap kelestarian hutan dengan memberi insentif dan menerapkan model bisnis yang menguatkan pertumbuhan lestari dan pemerataan,” paparnya.

Pemberian insentif kepada masyarakat yang terlibat dalam upaya pengelolaan hutan perlu didorong untuk menurunkan angka kemiskinan. Pemberian insentif juga dapat meningkatkan kemauan masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan.

Tidak hanya itu, upaya audit dan revisi tata-ruang perlu mendapatkan prioritas untuk mewujudkan keseimbangan antara pola pemanfaatan dan konservasi, lalu memberikan jaminan kepastian hukum penguasaan dan pengusahaan hutan dalam pengelolaan hutan.