A Prince In A Republic, Biografi Sri Sultan Hamengku Buwono IX Karya Guru Besar Australia

INSPIRATIF - Bedah buku A Prince In A Republic, The Live of Sultan Hamengku Buwono IX of Yogyakarta karya Prof Emeritus John Monfries dari Australia. Acara digelar di Kagungan Dalem Pagelaran Kraton Yogyakarta, Minggu (12/4/2015). (Foto: Humas DIY)
INSPIRATIF – Bedah buku A Prince In A Republic, The Live of Sultan Hamengku Buwono IX of Yogyakarta karya Prof Emeritus John Monfries dari Australia. Acara digelar di Kagungan Dalem Pagelaran Kraton Yogyakarta, Minggu (12/4/2015). (Foto: Humas DIY)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Kesedihan Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah masih banyaknya rakyat miskin di Republik Indonesia. Secara visioner, ia memimpikan kesamaan derajat dan martabat bangsa melalui pendidikan warganya. Sebuah alasan penting didirikannya Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pembahasan tersebut muncul dalam acara bedah buku A Prince In A Republic, The Live of Sultan Hamengku Buwono IX of Yogyakarta karya Prof Emeritus John Monfries dari Australia. Acara digelar di Kagungan Dalem Pagelaran Kraton Yogyakarta, Minggu (12/4/2015).

Awalnya, buku tersebut merupakan disertasi untuk mendapat gelar Doktor di Australian National University kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Institute Of Southeast Asian Studies Singapura.

Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur dan mewakili kerabat Kraton Yogyakarta berterima kasih dan mengapresiasi bedah buku yang digagas John Monfries untuk mengenang 103 tahun kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Dorodjatun, 22.30 WIB, Sabtu Pahing, 12 April 1912).

“Apa yang dapat kita teladani dari sosok Hamengku Buwono IX sebagaimana dalam Tahta untuk Rakyat, memimpin adalah menderita dan melayani; momong. Bukan sebaliknya, kekuasaan sebagai privilege dan mangreh. Kepemimpinan tidak dapat dijadikan kontes popularitas,” ujar Sultan, seperti dirilis Humas UGM.

Tarian Golek Putri Asmorondono Boworogo mengiringi sambutan Gubernur DIY Hamengku Buwono X.

Pembedah buku dipercayakan kepada pakar yang sangat kompeten dalam bidang sejarah, Prof Djoko Suryo dan Prof Bambang Purwanto dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Nasionalis

Dalam buku berjudul Tahta untuk Rakyat; Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, banyak kisah menarik yang dapat diceritakan terus-menerus. Tentang kepribadian dan kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang sangat nasionalis.

Salah satunya, pada era Revolusi Kemerdekaan. Setelah Proklamasi 1945 dikumandangkan, Belanda datang ke Indonedia membonceng NICA atau sekutu. Ketika Jakarta dikuasai Belanda, pada 1946, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengundang Soekarno-Hatta dan seluruh jajaran kabinet untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta.

Ketika itu, Pemerintah Belanda menawari Sri Sultan Hamengku Buwono IX kekuasaan di seluruh Pulau Jawa dan Madura. Syaratnya, Belanda diperbolehkan menguasai wilayah-wilayah lain di Indonesia. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menolak tawaran itu.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX bahkan tidak segan menanggung seluruh biaya pemerintahan. Meski ia tidak pernah memberi tahu jumlah uang yang telah dikeluarkan, tapi Bung Hatta mengatakan, lebih dari 5 juta gulden dialokasikan untuk gaji Soekarno-Hatta dan kabinet, operasional TNI, serta pengiriman delegasi Indonesia ke konferensi internasional.

Ketika Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta pada 1949, Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberikan cek senilai 6 juta gulden sebagai modal membangun republik.