Atasi Macet Saat Liburan, Perlu Sinkronisasi Perencanaan Transportasi Antar-Wilayah DIY

SERUAN - Salah satu bentuk seruan untuk perbaikan lalu lintas Jogja yang semakin padat. (Foto: Restless Angel WordPress)
SERUAN – Salah satu bentuk seruan untuk perbaikan lalu lintas Jogja yang semakin padat. (Foto: Restless Angel WordPress)

Sleman, JOGJADAILY ** Kesiapan daerah menyambut sejumlah kegiatan liburan rutin, seperti libur lebaran dan libur sekolah, penting dilakukan untuk meminimalisasi dampak lalu lintas kunjungan wisata.

“Misalnya saja dengan membuat perencanaan dan pembagian kewenangan sesuai dengan tupoksi masing-masing lembaga terkait. Beberapa kegiatan yang sudah pasti terjadi dampak lalu lintasnya bisa disiapkan sejak awal cara penanganannya,” ujar peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM, Deni Prasetio Nugroho, dalam Forum Lalu Lintas Angkutan Jalan DIY (LLAJ), beberapa waktu lalu.

Dirilis Humas UGM, manajemen rekayasa lalu lintas telah diterapkan Pemerintah DIY di sejumlah kawasan untuk mengurai kemacetan yang semakin meningkat. Meskipun demikian, perlu dilakukan sinkronisasi perencanaan transportasi di setiap wilayah agar perencanaan transportasi yang dihasilkan tidak menimbulkan dampak negatif bagi wilayah lain.

Dalam forum yang dihadiri perwakilan pemangku kebijakan, penegak hukum, akademisi, dan masyarakat DIY ini, Deni merekomendasikan koordinasi pembuatan masterplan transportasi. Pemerintah diharapkan dapat membuat rekayasa lalu lintas dalam lingkup yang lebih luas.

“Selama ini sudah diselesaikan permasalahan rekayasa lalu lintas terbatas. Ke depan perlu rekayasa dalam cakupan yang lebih besar,” tutur Deni.

Forum mengevaluasi manajemen rekayasa lalu lintas DIY, salah satunya di Jalan Godean. Untuk mengurangi kemacetan di ruas jalan tersebut, khususnya antara simpang Mirota Godean hingga Simpang Bener dalam jangka pendek perlu ditempatkan pembatas jalan dengan traffic cone. Selanjutnya, dalam jangka panjang bisa ditambahkan dengan devider. Selain itu, pelebaran dengan perbaikan pada bahu jalan.

“Kita juga usulkan Simpang Jatikencana menjadi simpang empat agar bisa menjadi jalur alternatif penghubung ke arah utara,” pungkas Deni.

Pertahankan Citra Tujuan Wisata

Untuk mempertahankan citra Kota Jogja sebagai tujuan wisata nasional, memang dibutuhkan manajemen transportasi lebih khusus, daripada yang telah dilakukan sekarang. Karena, kenyamanan wisatawan dengan pelayanan transportasi prima akan semakin memperkuat branding pariwisata yang berimpak pada terus membanjirnya wisatawan ke Jogja.

“Jogja sebagai Kota Budaya atau Jogja sebagai Kota Pendidikan telah berhasil dicapai. Kini saatnya menyelesaikan persoalan yang muncul setelah Jogja mulai padat dengan aktivitas pariwisata atau penunjangnya,” ujar Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta, Affrio Sunarno, kepada Jogja Daily, di Taman, beberapa waktu lalu.

Affrio menjelaskan, manajemen transportasi kota adalah masalah yang dihadapi hampir semua kota metropolis di dunia. Menyusul Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Malang, Kota Jogja telah waktunya concern pada tata-kelola transportasi kota, karena faktanya, wisatawan yang datang semakin banyak.

“Semua kota punya tingkat kesulitan masing-masing. Tapi prinsipnya, kita harus belajar dari kota-kota besar dunia yang berhasil mengatasi kepadatan dan kemacetan kota, untuk memanjakan wisatawan yang berkunjung,” ucapnya.

Misalnya, sambung Affrio, membedakan maintenance transportasi saat low season dan peak season. Saat hari biasa, biasanya pada jam-jam khusus, jalanan Kota Jogja padat oleh kendaraan, meski masih dalam tahap wajar.

“Akan tetapi, pada saat liburan datang, sebaiknya diberlakukan tata-kelola transportasi yang lebih rigid, untuk menjamin kenyamanan wisatawan yang tengah berkunjung. Regulasi tersebut harus diambil berdasarkan aspirasi stakeholder terkait, terutama para pelaku transportasi yang bersinggungan langsung dengan wisatawan, serta tukang parkir atau pendukung lain,” jelas Affrio.

Hal yang selalu menjadi pertimbangan utama, sambungnya, menyelesaikan problem metropolis Kota Jogja tidak melulu tentang perekonomian. Ia menegaskan, faktor sosial dan budaya sangat menentukan bagi keberlanjutan sebuah kebijakan publik.

“Keistimewaan Jogja dengan nilai-nilai luhur yang istimewa menjadi fondasi penting menyelesaikan masalah perkotaan, seperti kemacetan, sampah, hunian, kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Dialog sangatlah penting untuk memverifikasi program,” tutur Affrio.