Buka Peluang Ekspor ke Amerika Latin dan Karibia, Dubes Suriname Kunjungi Bantul

HANGAT – Pada 25-29 September 2014, Bupati Bantul, Sri Surya Widati beserta delegasi pejabat Bantul dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DIY berkunjung ke Suriname. (Foto: KBRI Paramaribo)
HANGAT – Pada 25-29 September 2014, Bupati Bantul, Sri Surya Widati beserta delegasi pejabat Bantul dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DIY berkunjung ke Suriname. (Foto: KBRI Paramaribo)

Bantul, JOGJADAILY ** Dubes Suriname, Kartowihono Sheffer, didampingi Direktur Amerika Selatan Kementerian Luar Negeri RI, Mustofa, bertemu Bupati Bantul, Sri Suryawidati, Selasa (7/4). Maksud kunjungan adalah membuka peluang ekspor produk dan investasi dari Kabupaten Bantul ke Amerika Latin dan Karibia.

“Amerika Latin dan Karibia masih terbuka peluang untuk investasi dan ekspor produk-produk yang ada di Indonesia. Kalau Negara Suriname sudah jelas sangat bangga dengan produk dari Indonesia, karena ada kedekatan secara emosional,” ujar Kartowihono.

Bupati Bantul mengapresiasi perhatian berbagai pihak demi kemajuan perekonomian bangsa, khususnya rakyat Bantul.

“Banyak produk-produk yang bisa ditawarkan, dari kerajinan batik tulis, gerabah, wayang, dan lain-lain. Kami akan berusaha mengadakan pameran atau promosi kepada negara-negara yang memungkinkan masih terbuka peluang untuk ekspor,” ucap Bupati, dirilis Humas Pemkab Bantul.

Pada September 2014, rombongan Pemkab Bantul berkunjung ke Suriname untuk meresmikan Museum Jawa yang didirikan di sana. Berbagai macam peralatan pertanian tempo dulu dan pakaian Jawa disimpan di museum tersebut. Peresmian museum dilakukan Bupati Sri Suryawidati.

Jawa Suriname

Tentu bukan tanpa alasan menghubungkan Bantul dan Suriname. Diperkirakan, jumlah Orang Jawa Suriname hingga 15 persen penduduk Suriname.

Dilansir Wikipedia, adanya orang Jawa di Suriname tak dapat dilepaskan dari sejarah perkebunan yang dibuka di sana. Karena tak diperbolehkannya perbudakan dan orang-orang keturunan Afrika dibebaskan dari perbudakan, pada akhir 1800-an Belanda mulai mendatangkan kuli kontrak asal Jawa, India, dan Tiongkok.

Orang Jawa awalnya ditempatkan di Suriname tahun 1880-an dan dipekerjakan di perkebunan gula dan kayu yang banyak di daerah Suriname.

Orang Jawa tiba di Suriname dengan banyak cara, namun banyak yang dipaksa atau diculik dari desa-desa. Tak hanya orang Jawa yang dibawa, namun ada orang-orang Madura, Sunda, yang keturunannya kemudian menjadi orang Jawa semua di sana.

Orang Jawa menyebar di Suriname, sehingga ada desa bernama Tamanredjo dan Tamansari. Ada pula yang berkumpul di Mariënburg. Orang Jawa Suriname sesungguhnya tetap ada kerabat di Tanah Jawa walau hidupnya jauh terpisah samudera. Itu sebabnya Bahasa Jawa tetap lestari di daerah Suriname.

Mengetahui Indonesia sudah merdeka, banyak orang Jawa yang berpunya kembali ke Indonesia. Pada 1975, saat Suriname merdeka dari Belanda, orang-orang yang termasuk orang Jawa diberi pilihan, tetap di Suriname atau ikut pindah ke Belanda.

Banyak orang Jawa akhirnya pindah ke Belanda dan lainnya tetap di Suriname. Rata-rata orang Jawa Suriname beragama Islam, walau ada sedikit yang beragama lain.

Hal yang unik dari orang Jawa Suriname, adanya larangan menikah dengan anak cucu orang sekapal atau satu kerabat. Jadi, orang sekapal yang dibawa ke Suriname itu sudah dianggap bersaudara dan anak cucunya dilarang saling menikah.