Desa Mandiri Benih, Ketersediaan Benih untuk Swasembada Pangan Nasional

SWASEMBADA - Irjen Kementan, Azis Hidayat, saat berkunjung ke Kabupaten Bantul sebagai pembina Upaya Khusus (Upsus) pencapaian swasembada pangan di DIY, Jumat (20/3/2015). (Foto: Dipertahut Bantul)
SWASEMBADA – Irjen Kementan, Azis Hidayat, saat berkunjung ke Kabupaten Bantul sebagai pembina Upaya Khusus (Upsus) pencapaian swasembada pangan di DIY, Jumat (20/3/2015). (Foto: Dipertahut Bantul)

Bantul, JOGJADAILY ** Pemerintah Republik Indonesia telah mencanangkan Seribu Desa Mandiri Benih di seluruh Indonesia. Tujuannya, mencapai ketersediaan benih dalam memenuhi target swasembada pangan nasional.

Dari anggaran APBN 2015, Kabupaten Bantul menerima kegiatan Desa Mandiri Benih dengan total empat desa, meliputi Desa Triharjo-Pandak, Desa Pleret-Pleret, Desa Pendowoharjo-Sewon, dan Desa Ringinharjo-Bantul.

Diharapkan, Desa Mandiri Benih memiliki satu kelompok yang mampu melayani dan memenuhi kebutuhan benih di sekitarnya. Awalnya, mereka adalah kelompok penangkar yang meningkat menjadi produsen benih.

Dirilis Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Kabupaten Bantul, pada Jumat (20/3/2015), Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian (Irjen Kementan), Azis Hidayat, berkunjung ke Kabupaten Bantul sebagai pembina Upaya Khusus (Upsus) pencapaian swasembada pangan di DIY.

Untuk mendukung kegiatan Desa Mandiri Benih diberikan pula bantuan berupa benih, gudang, lantai jemur, dan biaya sertifikasi benih. Pada akhirnya, pencapaian target swasembada pangan di Kabupaten Bantul dapat terwujud.

Benih merupakan parameter keberhasilan produksi tanaman pangan. Artinya, dalam kegiatan budidaya tanaman pangan dapat dilihat dari mutu benih yang digunakan. Apabila benih yang digunakan memiliki mutu baik maka dapat menjamin keberhasilan budidaya tanaman.

Peningkatan produktivitas harus diawali dengan penggunaan benih unggul bermutu. Mutu benih yang baik merupakan dasar bagi produktivitas pertanian yang lebih baik.

Target Produksi Bantul

Dalam rangka swasembada, pada 2015, Indonesia menargetkan produksi padi hingga 73,4 juta ton, dengan produktivitas nasional rata-rata sebesar 52,09 ku/ha. Produktivitas rata-rata baru mencapai 50,82 ku/ha, sedangkan potensi hasil beberapa varietas padi yang telah tersebar produktivitasnya mencapai lebih dari 7 ton/ha.

Menurut Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Bantul, target produksi yang harus dicapai Kabupaten Bantul pada 2015 untuk komoditas padi adalah 198.959 ton gabah kering giling (GKG) dengan luas sawah 15.453 ha, luas panen 29.698 ha, produktivitas 67,08 kuintal/ha

Selanjutnya, untuk jagung sebesar 23.668 ton pipil kering dengan produktivitas 59,50 kuintal/ha pipil kering, luas panen 2.300 ha. Sementara kedelai sebesar 3.557 ton wose kering dengan produktivitas 15,47 kuintal/ha, luas panen 2.300 ha.

Sasarannya, produktivitas padi meningkat 0,3 ton/ha gabah kering pungut (GKP), produktivitas jagung meningkat sebesar 1 ton /ha, dan produkivitas kedelai meningkat 0,2 ton /ha.