Entrepreneurial Era, Puswira UAJY Optimalkan Inkubator Bisnis

CALON PENGUSAHA - Salah satu narasumber Pelatihan Inkubator Bisnis dari Puswira UAJY, Anita Herawati, tengah memberikan materi di Kampus Bonaventura, Fakultas Ekonomi UAJY. (Foto: UAJY)
CALON PENGUSAHA – Salah satu narasumber Pelatihan Inkubator Bisnis dari Puswira UAJY, Anita Herawati, tengah memberikan materi di Kampus Bonaventura, Fakultas Ekonomi UAJY. (Foto: UAJY)

Sleman, JOGJADAILY ** Sebagian kalangan menyebut zaman ini sebagai era kewirausahaan (entrepreneurial era). Era di mana kewirausahaan memainkan peranan strategis dalam setiap sektor kehidupan. Pemerintah terus berupaya mendorong pelaksanaan pembelajaran berbasis kewirausahaan, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Merespons hal tersebut, diperlukan upaya pembangkitan bakat dan minat kewirausahaan secara luas. Di samping itu, dalam realitas bisnis kekinian terjadi kompetisi sengit di antara para usahawan. Kompetisi memiliki kecenderungan yang terus meningkat, sehingga para usahawan dituntut memiliki kemampuan yang cukup di dunia usaha agar dapat terus bertahan.

Lulusan perguruan tinggi yang diharapkan sebagai pelopor pembangunan hendaknya memiliki semangat kewirausahaan kuat dan mampu mengubah mindset mereka agar tidak berorientasi pada pencarian pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan.

Dirilis Humas UAJY, Pusat Studi Kewirausahaan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (Puswira UAJY) menyelenggarakan Pelatihan Inkubator Bisnis, Sabtu (28/3/2014) dan Sabtu (11/4/2015) di Kampus Bonaventura, Fakultas Ekonomi UAJY.

Pelatihan Inkubator Bisnis merupakan langkah Puswira untuk memberikan kesempatan pada mahasiswa yang ingin mengembangkan usaha, melalui proses pelatihan dan magang. Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan dapat mempelajari aspek-aspek terkait bisnis; magang kepada pengusaha sesuai dengan usaha yang ditekuni; dan bagi peserta terpilih, akan mendapat dana stimulan.

Narasumber acara adalah para praktisi bisnis yang telah berhasil mengembangkan usahanya. Mereka adalah Dalyono, pengusaha mebel batik Bantul; Yosephus Wegig Widyadharmasta, pengusaha kuliner alumnus FE UAJY; dan Zeklim Agung Satrio, alumnus FE UAJY, pengusaha angkringan, laundry, dan peternakan bebek.

Selain itu, kelompok dosen yang tergabung dalam Puswira, yakni Anna Purwaningsih, Anita Herawati, Elisabet Dita, dan Th. Diah Widiastuti.

Untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru, salah satu alternatif strategi yang dapat ditempuh adalah inkubator bisnis. Pendidikan tinggi, melalui lembaga penelitian, dapat memanfaatkan hasil penelitian dan bantuan pengembangan usaha melalui pembentukan sebuah inkubator bisnis.

Pada hakikatnya, inkubator bisnis merupakan model inovatif yang menempatkan pengusaha atau calon pengusaha yang terseleksi, untuk dibina dalam suatu tempat khusus, pelatihan teknis, penyediaan informasi, serta pemberian asistensi dalam pemasaran dan manajemen.

Pemberdayaan

Sekitar 40 persen atau sekira 100 juta penduduk Indonesia saat ini merupakan penduduk miskin dan rentan. Tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat semakin tinggi.

Kesenjangan distribusi pendapatan merupakan konsekuensi pembangunan yang berorientasi pertumbuhan. Porsi pendapatan yang diterima golongan penduduk berpendapatan rendah saat ini, meningkat amat kecil. Sementara pendapatan yang diterima lapisan menengah ke atas secara konsisten semakin tak terkejar.

Demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Prof. Suahasil Nazara, dalam Kuliah Umum bertema ‘Pembangunan Ekonomi Nasional: Manusia sebagai Modal Utama Pembangunan’, Rabu (1/10/ 2014) di Ruang 3.3 Lantai III, Gedung Bonaventura, Fakultas Ekonomi Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FE UAJY), Jalan Babarsari.

Menurut Guru Besar yang menamatkan studi doktornya di University of Illionis pada 2003 tersebut, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tergolong tinggi, angka pengangguran cenderung turun, akan tetapi terdapat persoalan yang amat krusial.

“Persoalan tersebut adalah semakin meningkatnya ketimpangan, dalam tataran ekonomi makro. Yang membuat kesenjangan itu semakin mencengangkan adalah karena derajat kesenjangan saat ini merupakan angka yang tertinggi selama 50 tahun terakhir, yang dalam sisa waktu akhir pemerintahan saat ini makin tidak bisa diatasi,” paparnya.

Ia menjelaskan, pemerintah harus membantu warganya untuk me-manage risiko-risiko yang dihadapi kelompok penduduk berkategori miskin dan rentan tersebut. Hal ini dapat ditempuh dengan memberikan perlindungan sosial lewat UU No. 40/2004 tentang Jaminan Sosial Nasional, meliputi tunjangan kesehatan, kecelakaan kerja, hari tua, pensiun, dan kematian.

Di samping itu, pemerintah juga wajib melaksanakan Program Penanggulangan Kemiskinan, meliputi bantuan sosial Rumah Tangga, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan lapangan kerja dan penghasilan.