Gerakan Tanam Padi Kulon Progo Tingkatkan Swasembada Pangan

TANAM PADI - Wabup Kulon Progo, Sutedjo, bersama beberapa pejabat, daerah, dan TNI menanam padi di Bulak Kedundang, Kecamatan Temon, Kulon Progo, Kamis (9/4/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)
TANAM PADI – Wabup Kulon Progo, Sutedjo, bersama beberapa pejabat, daerah, dan TNI menanam padi di Bulak Kedundang, Kecamatan Temon, Kulon Progo, Kamis (9/4/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Temon, JOGJADAILY ** Gerakan tanam padi dilakukan beberapa pejabat dari pusat, daerah, dan TNI, di Bulak Kedundang, Kecamatan Temon, Kulon Progo, Kamis (9/4/2015), sebagai upaya peningkatan swasembada pangan, khususnya Kulon progo.

Luas lahan pertanian di Desa Kedundang sekira 56 hektar, terdiri dari 6 Kelompok Tani dan 1 Gapoktan. Pola tanam yang dilaksanakan adalah padi-padi-palawija, sehingga dalam satu tahun ada 3 masa tanam. Sekitar 76-80 persen petani menerapkan Sistem Legowo.

Untuk meningkatkan produksi pertanian, Gapoktan Among Tani dipercaya menjadi produsen benih padi. Varietas yang digunakan adalah Ciherang dan Pepe, dengan hasil ubinan rata-rata 9,6 ton per hektar gabah kering pungut (GPP).

Semua hasil produksi pembenihan pada MT 2 tahun 2014 yang dikelola Gapoktan Among Tani sebesar 26 ton dengan varietas Ciherang ludes terjual. Untuk produksi MT I tahun 2015 mengalami peningkatan dengan varietas Ciherang dan Pepe sebanyak 40 ton.

Pada masa yang akan datang, target Gapoktan Among Tani menghasilkan benih 100 ton per tahun. Namun, ada kendala yang dihadapi, yaitu proses penjemuran yang masih meminjam lapangan sepak bola dan penyimpanan gabah yang masih meminjam rumah warga. Harapannya, ada bantuan dana untuk pembangunan gudang dan lantai jemur, serta memberikan pembatasan izin pendirian bangunan di lokasi produksi.

Wabup Kulon Progo, Sutedjo, mengatakan, untuk meningkatkan produktivitas pertanian perlu kegiatan yang mampu mendorong keberhasilan, seperti pengembangan atau rehabilitasi jaringan irigasi; optimalisasi lahan; gerakan pengelolaan tanaman terpadu; perluasan areal tanam; penyediaan bantuan benih, pupuk, alat, dan mesin pertanian; serta melakukan pengawalan dan atau pendampingan.

Selain itu, pelaksanaannya harus dilaksanakan dengan strategi yang baik, seperti meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman melalui peningkatan ketersediaan air irigasi, benih, pupuk, dan alat mesin pertanian (alsintan); memberikan fasilitasi pendampingan irigasi; optimasi lahan; GP-PTT (jagung, padi, kedelai) pada lokasi yang berbeda; serta optimalisasi lahan pada sentra produksi padi.

Menurut Wabup, pola tanam padi-padi-palawija di Kulon Progo telah ada sejak 1980-an dengan Peraturan Bupati. Ketika itu, ada serangan hama wereng. Seluruh lahan padi di Kulon Progo terkena puso. Serangan wereng menginspirasi petani untuk melaksanakan pola penanaman padi-padi-palawija.

Peran TNI

Sementara itu, Kasrem 072/Pamungkas, Kolonel Inf. Erwin Rustiawan mengatakan, ia bersyukur, Kulon Progo telah melebihi batas minimum produktivitas capaian panen.

“Sesuai kerja sama antara Kementerian Pertanian dan TNI, TNI beperan sebagai pendamping. Jika ada permasalahan, selaku pendamping petani, kami siap membantu petani. Di sini ada Babinsa dari Desa Kedundang, Danramil Temon. Karena, tugas komando kewilayahan (Kodim dan Babinsa) daerah operasinya adalah di wilayahnya. Jika diperintahkan untuk meningkatkan ketahanan pangan maka kita berjuang untuk mencapai sasaran mencapai swasembada pangan tahun 2017. Inilah perannya Kodim dan Koramil,” tuturnya.

Suprapto, wakil dari Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian RI, menjelaskan, pangan adalah sesuatu yang sangat penting, dan masa depan dunia ada di pangan. Dengan pangan yang kuat, diyakini Indonesia bisa menjadi masa depan dunia. Untuk itu, kebijakan pemerintah saat ini untuk bisa swasembada pangan sudah sangat tepat.

Ia kagum dengan upaya Pemkab Kulon Progo yang bisa menyediakan pasar bagi petani, karena pasar harus digarap dengan baik. Selain itu, dia berharap supaya penyuluh pertanian diberdayakan sebaik-baiknya, karena mereka diperlukan untuk mendampingi petani.

Kadinas Pertanian DIY, Sasongko, menjelaskan, DIY merupakan salah satu provinsi yang berani menargetkan sasaran produksi pertanian melebihi luas sawah yang ada.

“Jika tidak mencapai sasaran ini, berarti setiap sawah belum tentu setiap tahun ditanami padi sekali. Namun di DIY, dengan luas lahan sawah 56 ribu hektar, belum termasuk luas lahan kering, berani mentargetkan produksi melebihi luas lahan,” jelasnya, dirilis Pemkab Kulon Progo.

Dengan percepatan pengolahan penanaman, diharapkan dalam satu tahun bisa menghasilkan produksi yang lebih tinggi.

Usai penanaman padi secara simbolis, rombongan meninjau pembangunan jaringan irigasi tingkat usaha tani di P3A Tirto Kencono, Karangwuluh, Temon. Di Karangwuluh terdapat 4 kelompok tani dan ikut menjadi pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Dengan luas kurang lebih 50 hektar lahan ini memiliki panjang saluran air 2048 meter, dan baru 1012 meter yang sudah dibangun bangket.

Para petani di Karangwuluh juga berharap ada bantuan traktor tangan jenis rotari, karena selama ini masih meminjam, sehingga sering terlambat tanam. Selain itu, petani berharap bantuan lantai jemur untuk penangkaran benih dan gubung tani sebagai tempat pertemuan petani.