Jogja Istimewa, DIY Suguhkan Gelar Citra Tradisi Budaya Nusantara pada HUT TMII ke-40

HUT TMII - Kantor Perwakilan DIY di Jakarta menyuguhkan Gelar Citra Tradisi Budaya Nusantara di Anjungan DIY TMII, Sabtu (11/4/2015), dalam rangka peringatan HUT TMII ke-40, pada 20 April tahun 2015 nanti. (Foto: Humas DIY)
HUT TMII – Kantor Perwakilan DIY di Jakarta menyuguhkan Gelar Citra Tradisi Budaya Nusantara di Anjungan DIY TMII, Sabtu (11/4/2015), dalam rangka peringatan HUT TMII ke-40, pada 20 April tahun 2015 nanti. (Foto: Humas DIY)

Jakarta, JOGJADAILY ** Kantor Perwakilan DIY di Jakarta menyuguhkan Gelar Citra Tradisi Budaya Nusantara, berupa Pagelaran Sendratari Sirnaning Sukerto dari Kabupaten Bantul dan Tari Golek Pudyastuti dari Kabupaten Gunungkidul di Anjungan DIY Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (11/4/2015). Gelaran tersebut dalam rangka peringatan HUT TMII ke-40, pada 20 April tahun 2015 nanti.

“Saya mengharapkan, acara semacam ini dapat berlangsung dengan sukses, sehingga dapat mendukung Jogja Istimewa,” ujar Wakil Bupati Bantul, Sumarno PRS, saat menyampaikan sambutan ringkasnya, seperi dirilis Humas DIY.

Mewakili Bupati Bantul, Sumarno menyampaikan apresiasi atas diselenggarakannya kegiatan Citra Tradisi Budaya tersebut. Hal tersebut diharapkan memberikan makna pada Jogja, Indonesia, bahkan kalangan lebih luas.

Dalam orasinya, Wabup Bantul memberikan kado berupa pantun bagi TMII yang berulang tahun, “Dari Karangtalun Kota berbah terus ke timur sampai ke Surabaya… selamat ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah semoga panjang umur makin jaya,” ucapnya renyah.

Dengan gelar budaya ini, ia berharap, DIY semakin Istimewa.

Turut hadir dalam acara, Wakil Bupati Gunungkidul, Himawan Wahyudi; Asisten Ekonomi Pembangunan Kabupaten Bantul, Suyoto; Kepala Kantor Perwakilan DIY di Jakarta, Djoko Aryanto; Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul; Kabag Humas, Iswanto; serta para Ketua Paguyuban Masyarakat Yogyakarta yang ada di Jakarta dan pencinta komunitas tari dari Jepang.

Sarat Makna

Sendratari Sirnaning Sukerto mengisahkan tentang suatu tempat di Kabupaten Bantul bernama Tempuran Kali Opak dan Kali Gajah Wong, saksi bisu dari kisah asmara Kanjeng Ratu Kidul dan Sultan Agung.

Tempat pertemuan yang dianggap tidak semestinya tersebut membuat malapetaka bagi masyarakat daerah sekitar Tempuran yang menyebabkan masyarakat Wonokromo mengalami ‘pageblug’ (bencana). Mengetahui hal tersebut, Sultan Agung merasa bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.

Alkisah, dipanggillah seorang kiai yang menjadi panutan masyarakat, yaitu Kiai Welit, untuk menyembuhkan masyarakat akibat bencana. Berkat kesaktian Kiai Welit, masyarakat dapat terbebas dari penderitaan dan dapat kembali hidup tenteram seperti sedia kala.

Kabupaten Gunungkidul mengirimkan duta seni, menyuguhkan sendratari Golek Pudyastuti. Sebuah kreasi KRT Sasmintodipuro yang menggambarkan beberapa putri anggun menyambut kedatangan tamu. Hal ini divisualisasikan dengan gerakan tarian klasik gaya Yogyakarta dengan koreografi dinamis.