Kejujuran Siswa Saat Ujian Nasional, Cerminan Perilaku Istimewa Jogja Istimewa

KEJUJURAN - Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, memantau pelaksanaan UN di SMK 5 Yogyakarta, Kamis (16/4/2015). Ia mengatakan, siswa harus mengedepankan kejujuran. (Foto: Arif Giyanto)
KEJUJURAN – Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, memantau pelaksanaan UN di SMK 5 Yogyakarta, Kamis (16/4/2015). Ia mengatakan, siswa harus mengedepankan kejujuran. (Foto: Arif Giyanto)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Ujian Nasional (UN) untuk SMK/SMA mulai digelar hari ini, Senin (13/4/2015) dan berakhir Kamis (16/4/2015). Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, memantau pelaksanaan UN di SMK 5 Yogyakarta.

“Sejauh ini, pelaksanaan ujian nasional berjalan lancar. SMK 5 Yogyakarta menerapkan CBT (Computer Based Test) dalam ujian kali ini. Sekolah juga dilengkapi CCTV untuk memantau jalannya ujian,” ujar Haryadi, Senin (13/4/2015).

Walikota menjelaskan, salah satu keberhasilan pelaksanaan UN adalah kelancaran. Selain itu, seluruh siswa Kota Yogyakarta juga mengedepankan kejujuran.

“Sekarang ini UN telah didesain sedemikian rupa untuk lancar dan meminimalisasi kecurangan. Jadi bagi siswa atau orangtua siswa, juga para guru tidak perlu lagi mencari-cari bocoran atau berbuat curang. Karena hanya akan membuang waktu. Kita mengedepankan kejujuran anak-anak kita dalam mengerjakan UN,” terang Haryadi.

Ia berharap, selama pelaksaan UN yang berbasis komputer kali ini juga didukung pelayanan listrik yang memadai. Karena, berhasil atau tidaknya tergantung pada pelayanan PLN.

“Semoga kinerja PLN dapat maksimal dalam mendukung kelancaran UN. Listrik semoga tidak padam,” tuturnya.

Haryadi juga menegaskan, perihal antisipasi kecurangan, pihaknya telah bekerja sama dengan instansi terkait seperti TNI, Polri, dan Dinas Pendidikan. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan UN berjalan dengan lancar.

Karakter Istimewa

Menambahi Walikota Yogyakarta, Kepala Bagian Humas Pemkot Yogyakarta, Tri ‘Kelik’ Hastono, mengatakan, kejujuran adalah karakter istimewa. Sebab, kejujuran mencerminkan keistimewaan Jogja.

Output dari pendidikan sebenarnya adalah peserta didik yang memahami arti penting kejujuran. Kejujuran akan melahirkan integritas yang berujung pada kepercayaan. Dengan demikian, generasi muda potensial melanjutkan kepemimpinan dengan kejujuran tersebut,” tutur Kelik.

Jogja disebut istimewa, sambungnya, karena memiliki nilai-nilai adiluhung yang secara turun-temurun dijaga sebagai warisan budaya. Mewujudkan Jogja Istimewa tentu saja tidak terlepas dari sektor pendidikan.

“Prinsip dari sistem monitoring UN yang bahkan hingga masuk ranah digital, sebenarnya memastikan tidak adanya kecurangan. Peserta didik dimonitoring untuk berbuat jujur, meski dengan pengawalan superketat,” ungkapnya.

Dengan membumikan perilaku istimewa, yakni mengedepankan kejujuran dalam pelaksanaan UN, niscaya Jogja Istimewa benar-benar dapat merepresentasi masyarakat Jogja yang memang istimewa. Semua itu, diawali dengan sikap jujur siswa dalam mengerjakan UN.