#KitaMorotai, Dukungan Strategis UGM Berdayakan Pulau Morotai

WELCOME - Tokoh muda Pulau Morotai, McBill Abdul Aziz, mengapresiasi dukungan UGM pada pembangunan Morotai. (Foto: Eric Panjaitan)
WELCOME – Tokoh muda Pulau Morotai, McBill Abdul Aziz, mengapresiasi dukungan UGM pada pembangunan Morotai. (Foto: Eric Panjaitan)

Daruba, JOGJADAILY ** Sebuah gerakan berbasis komunitas non-profit diinisiasi mahasiswa yang akan mengabdi pada program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kepulauan Morotai, Juli 2015 nanti, bertajuk #KitaMorotai.

Program tersebut dinilai sebagai dukungan strategis perguruan tinggi, terutama UGM, untuk memberdayakan pulau terluar, seperti Morotai. Dengan intensitas dan keberlanjutan program, Morotai akan semakin tumbuh dan dapat berkontribusi besar pada perekonomian nasional.

“Saya sangat mengapresiasi langkah UGM ini. Pulau Morotai membutuhkan relasi strategis, baik itu kampus, pemodal, komunitas kreatif, dan lembaga pemerintah, untuk terus berkembang dan eksis, setara dengan warga Indonesia lainnya,” ujar tokoh muda Morotai, McBill Abdul Aziz, kepada Jogja Daily via online, Jumat (10/4/2015).

Ia menjelaskan, dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, khususnya pada Koridor Ekonomi Papua-Kepulauan Maluku, perairan Morotai memiliki potensi kegiatan pengolahan dan distribusi hasil perikanan yang besar.

“Pengembangan perikanan di Maluku Utara akan dirintis dengan mengembangkan Mega Minapolitan Morotai, yaitu konsep pengembangan kawasan perikanan dan kelautan,” tutur alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut.

Kawasan Morotai yang bersejarah, sambungnya, memiliki banyak potensi sumberdaya laut yang luar biasa. Secara geostrategis, Morotai berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik; berbatasan dengan Filipina. Ribuan ton ikan tuna dihasilkan Morotai per hari.

“Suatu ketika awal 2010, pembicaraan penting tengah berlangsung dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi VI. Malut Crisis Centre menyampaikan usulan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bagi Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai. Komisi yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, UKM dan BUMN, dan standarisasi nasional itu kemudian menyatakan dukungannya,” jelas McBill.

Lebih dari dua tahun kemudian, saat membuka puncak acara Sail Morotai 2012 di Desa Juanga, Kabupaten Morotai, Provinsi Maluku Utara, Presiden SBY menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia berencana menetapkan Pulau Morotai dan wilayah sekitarnya sebagai KEK. Dalam waktu 5 hingga 15 tahun mendatang Morotai diharapkan dapat tumbuh sebagai episentrum baru perekonomian Indonesia.

“Presiden SBY juga menegaskan, letak Morotai yang begitu strategis dapat dimanfaatkan menjadi poros baru peta perdagangan di kawasan Asia Pasifik. Dari sisi geografis, letak Morotai berada di antara pertemuan kawasan ekonomi timur dan Pasifik, sehingga memiliki keunggulan geopolitik dan potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat,” ungkapnya.

Regulasi Pemda

McBill mengatakan, pencanangan KEK di Morotai adalah sebuah percepatan pembangunan. Investasi ekonomi Morotai akan stabil dan meningkat, sehingga taraf hidup masyarakat Morotai pun meningkat. Namun, di sisi lain, regulasi Pemda harus jelas.

“Dengan kejelasan regulasi, investor akan nyaman berinvestasi di Morotai. Selain itu, Pemda juga harus memiliki kesiapan mental menerima investor,” ujar McBill.

Kesiapan SDM Morotai yang belum merata, tambahnya, patut menjadi perhatian utama dalam perencanaan pembangunan infrastruktur di Morotai. Hal ini menjadi tanggung jawab Pemda dalam konteks dukungan pembangunan. Bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi harus terintegrasi.

“Nah, kedatangan #KitaMorotai memberi angin segar bagi masyarakat Morotai. Kami dengan berbahagia menunggu partisipasi mereka. Selamat datang di Morotai,” pungkasnya.