Kunjungi UGM, Menlu Retno Marsudi Usulkan Pembentukan Asia Africa Center

JELANG KAA - Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, dan Rektor UGM, Dwikorita Karnawati, dalam Bandung Conference and Beyond di ruang Balai Senat UGM, Rabu (8/4/2015). (Foto: Humas UGM)
JELANG KAA – Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, dan Rektor UGM, Dwikorita Karnawati, dalam Bandung Conference and Beyond di ruang Balai Senat UGM, Rabu (8/4/2015). (Foto: Humas UGM)

Sleman, JOGJADAILY ** Untuk memperkuat kembali kerja sama antar-negara Asia dan Afrika Pemerintah Indonesia berencana mengusulkan pembentukan Asia Africa Center. Usulan tersebut akan disampaikan pada peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), 19-24 April di Bandung.

“Indonesia siap untuk mengusulkan pembentukan Asia Africa Center, pusat aktivitas kerja sama, pertukaran, pengetahuan dan diskusi, serta memperkuat hubungan Asia Afrika yang sudah berlangsung,” ujar Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, dalam Bandung Conference and Beyond di ruang Balai Senat UGM, Rabu (8/4/2015).

Ia menjelaskan, kerja sama antar-negara Asia Afrika selama enam dekade tidak pernah terlembagakan dalam sebuah forum pertemuan yang digelar rutin. Padahal, banyak forum pertemuan internasional, seperti The Asia-Europe Meeting (ASEM), Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Forum for East Asia and Latin America Cooperation (FEALAC).

Sepuluh poin hasil pertemuan KAA 60 tahun lalu, diakui Menteri Retno masih sangat relevan dan berlaku hingga saat ini. Meski begitu, kerja sama antara negara Asia dan Afrika melalui pertemuan rutin belum terlembagakan dengan baik.

Menurut Retno, pendirian Asia Africa Center bertujuan untuk memperkuat kerja sama antar-pemimpin di negara Asia dan Afrika. Meski demikian, usulan tersebut tidak bisa disampaikan Indonesia saja; diperlukan dukungan dari negara peserta lain.

“Kita perlu negara lain untuk mendukung ini agar hubungan Asia Afrika makin dekat,” katanya, seperti dirilis Humas UGM.

Hasil KAA 1955, yakni Dasasila Bandung, sambung Retno, perlu diwujudkan dalam bentuk kerja sama lebih konkret. Kerja sama Selatan-Selatan bahkan harus diperkuat.

“Kerja sama Selatan-Selatan dapat memberikan kontribusi bagi perdamaian dan kemakmuran dunia,” ucapnya.

Kearifan Lokal Masyarakat Asia

Rektor UGM Dwikorita Karnawati mengatakan, beberapa isu yang perlu diangkat menjelang peringatan 60 tahun KAA di Bandung adalah kerja sama pertukaran pengetahuan dan teknologi, konsep pembangunan berkelanjutan, dan memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Asia.

Sementara pengamat hubungan internasional dari American University, Prof Amitav Acharya, menuturkan, gagasan pelaksanaan KAA murni dari Indonesia selaku tuan rumah. Namun, pertemuan tersebut disokong penuh oleh empat negara lain, yakni India, Pakistan, Srilangka, dan Burma.

Amitav mengungkapkan, ada 29 negara yang mengikuti KAA. Awalnya, pertemuan akan digagalkan Amerika Serikat dan Inggris karena khawatir pada meluasnya pengaruh paham komunis dan hilangnya negara jajahan Inggris, karena tuntutan untuk merdeka.

“Ada ketakutan dan propaganda yang dilakukan Inggris dan Amerika,” ujarnya.

Meski begitu, konferensi Bandung tersebut tetap berjalan lancar dan menghasilkan beberapa poin penting, di antaranya menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi dan pengakuan akan Hak Asasi Manusia.