Literasi Matematika, Bila Peserta Didik Butuh Alasan Belajar Matematika

MATHVENTURE - Pengenalan literasi matematika Tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY di MTs Negeri Kalabahi, Februari lalu. (Foto: Arif Giyanto)
MATHVENTURE – Pengenalan literasi matematika Tim Mathventure 2015 Goes To Alor UMBY di MTs Negeri Kalabahi, Februari lalu. (Foto: Arif Giyanto)

BUKAN hal baru bila peserta didik tidak menyukai matematika. Banyak sebab bisa diungkapkan, tapi pendidikan matematika menjadi kata kunci penting, karena ketika itulah siswa berkesempatan jatuh hati pada matematika.

Berdasarkan peraturan Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Mata Pelajaran Matematika Lingkup Pendidikan Dasar menyebutkan bahwa mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

Pertama, memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.

Kedua, menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

Ketiga, memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

Keempat, mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

Kelima, memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Untuk memberi pemahaman kepada peserta didik, literasi matematika dapat menjadi alternatif. Secara sederhana, literasi matematika adalah kemampuan mengajukan, merumuskan, dan menyelesaikan suatu masalah yang ada di dalam atau di luar suatu masalah matematika dalam berbagai macam bidang dan konteks.

Kemampuan tersebut mencakup semua hal, mulai dari matematika murni sampai pada hal di mana tidak ada struktur matematika. Pada saat mengajarkan matematika, siswa telah dipahamkan hal tersebut dengan baik, melalui problem poser, problem solver, atau keduanya.

Peserta didik akan merasakan kehadiran matematika dalam kehidupan mereka dengan literasi matematika. Setelahnya, mudah menjelaskan kepada mereka tentang pentingnya matematika.

Definisi Literasi Matematika

Menurut Wardhani (2011), literasi merupakan serapan dari kata dalam bahasa Inggris literacy yang berarti kemampuan untuk membaca dan menulis. Pada masa lalu dan juga masa sekarang, kemampuan membaca atau menulis merupakan kompetensi utama yang sangat dibutuhkan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Tanpa kemampuan membaca dan menulis, komunikasi antar-manusia sulit berkembang ke taraf yang lebih tinggi.

Fletcher-Campbell et al. (2009) mengatakan, literasi adalah sebuah konsep kompleks, sehingga untuk mendapatkan kemampuan ini diperlukan proses yang juga rumit. Gagasan umum dari literasi tersebut diserap dalam bidang-bidang lain, dan salah satu bidang yang menyerapnya adalah bidang matematika, sehingga muncul istilah literasi matematis.

Menurut Kusumah (2012), literasi matematis adalah kemampuan menyusun serangkaian pertanyaan (problem posing), merumuskan, memecahkan, dan menafsirkan permasalahan yang didasarkan pada konteks yang ada.

Menurut Isnaini (2010), literasi adalah kemampuan peserta didik untuk dapat mengerti fakta, konsep, prinsip, operasi, dan pemecahan matematika.

Sementara definisi literasi matematika menurut Draft Assessment Framework PISA 2012, Mathematical literacy is an individual’s capacity to formulate, employ, and interpret mathematics in a variety of contexts. It includes reasoning mathematically and using mathematical concepts, procedures, facts, and tools to describe, explain, and predict phenomena. It assists individuals to recognise the role that mathematics plays in the world and to make the well-founded judgments and decisions needed by constructive, engaged and reflective citizens.

Dapat disimpulkan bahwa literasi matematika fokus pada kemampuan siswa dalam menganalisis, memberikan alasan, dan menyampaikan ide secara efektif, serta merumuskan, memecahkan, dan menginterpretasi masalah-masalah matematika dalam berbagai bentuk dan situasi.

Penilaian yang digunakan adalah fokus kepada masalah-masalah dalam kehidupan nyata, di luar dari situasi atau masalah yang sering dibahas selama proses pembelajaran di kelas. Di dalam kehidupan nyata, seperti situasi ketika berbelanja, melakukan perjalanan, masalah keuangan, menganalisis situasi politik, dan hal-hal lain. Penggunaan kemampuan matematika lain merupakan alat bantu yang menjelaskan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, tujuan yang akan dicapai dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 merupakan literasi matematika. Perhatikan, kemampuan dalam tujuan mata pelajaran matematika menurut Standar Isi Mata Pelajaran Matematika pada intinya adalah kemampuan yang dikenal sebagai literasi matematika.