Minim Estetika dan Kreativitas, Identitas Personal Pakeliran Dalang Muda Tidak Menonjol

WAYANG PURWA - Pentas Wayang Purwa pada Wayang Nusantara Festival, Kuala Lumpur, Malaysia. (Foto: Constantine Korsovitis/Karma Images)
WAYANG PURWA – Pentas Wayang Purwa pada Wayang Nusantara Festival, Kuala Lumpur, Malaysia. (Foto: Constantine Korsovitis/Karma Images)

Sleman, JOGJADAILY ** Meski memiliki keterampilan teknis pedalangan, terutama dalam hal sabet, keprakan, dan suluk, seniman muda pedalangan saat ini dinilai minim dalam hal kemampuan yang berkaitan dengan estetika dan kreativitas.

Sebagian besar dalang-dalang muda masih berkiblat pada gaya pedalangan dalang-dalang senior yang diidolakannya, tanpa melakukan pendalaman materi pakeliran secara pribadi.

“Dengan begitu, identitas personal pakeliran dalang-dalang muda ini tidak menonjol, bahkan cenderung mengalami penurunan bobot estetis pakeliran, akibat berhentinya eksplorasi unsur-unsur pakeliran sebatas aspek fisik saja,” ujar Bambang Suwarno di Sekolah Pascasarjana UGM, Jumat (10/4/2015).

Dosen Institut Seni Indonesia Surakarta tersebut menjalani ujian terbuka, meraih derajat doktor Bidang Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM, didampingi tim promotor Prof Timbul Haryono, Prof RM. Soedarsono dan Prof Soetarno, mempertahankan disertasi ‘Wanda Wayang Purwa Tokoh Pandawa Gaya Surakarta; Kajian Bentuk, Fungsi, dan Pertunjukan’.

“Beragam sub-gaya dan bentuk wanda kehadiran boneka wayang kulit gaya Surakarta sebagai aspek pendukung pertunjukan hingga kini masih berlangsung di kalangan pedalangan. Hal ini ditunjukkan dengan masih berlangsungnya produksi dan penggunaan fitur-fitur wayang dengan bentuk dan wanda tertentu dalam pementasan oleh dalang-dalang, terutama dalang profesional yang berorientasi kepada garap pakeliran sebagai salah satu parameter keberhasilan sajian,” terang Bambang.

‘Mungguh’ dan ‘Nuksma’

Menurutnya, dalam penggunaan figur wayang beserta ragam wandanya sebagai penunjang keberhasilan sajian pakeliran, kebanyakan dalang-dalang muda sebatas menirukan penerapan pilihan tokoh dan wandanya dalam pekeliran dalang-dalang senior yang diidolakannya. Akibatnya, konsep mungguh dan nuksma dalam penggunaan wanda wayang yang berkaitan dengan pakeliran tidak terwujud.

“Wanda wayang ditinjau dari perspekstif kreativitas memiliki peranan penting untuk pemecah masalah, menjaga daya saing, dan mendorong inovasi baru dalam dunia pakeliran,” ucapnya, dirilis Humas UGM.

Sementara itu, dari sudut pandang estetika, wanda wayang memperlihatkan peran penting dalam pakeliran. Karena, dalam wanda wayang terdapat kode-kode pembantu dalang dalam mencapai pakeliran yang nuksma dan mungguh meliputi kode tentang sabet, antawacana, sanggit dan lakon, serta karawitan pakeliran.

“Ciri-ciri dan perbedaan wanda wayang tradisi Karaton dan luar Karaton dapat dikenali melalui serangkaian parameter ikonografi dan fisiognomi tertentu. Wanda-wanda tradisi Karaton dikenali lewat keterangan tertulis, baik yang terdapat dalam fisik wayangnya sendiri atau dalam buku-buku yang terkait,” tuturnya.

Sementara cara mengenali wanda Pandawa dalam tradisi luar Karaton, sambungnya, kebanyakan berupa interpretasi terhadap sumber-sumber visual dengan mengandalkan pengenalan terhadap parameter corekan paling menonjol atau tradisi lisan yang diturunkan dari dalang-dalang pendahulunya.