Nelayan Kulon Progo Bersiap Jelang Selesainya Pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto

BERSIAP - Nelayan Kulon Progo kini tengah bersiap menyambut selesainya pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto dengan belajar mengoperasikan kapal di atas 30 GT. (Foto: Sekwan Kulon Progo)
BERSIAP – Nelayan Kulon Progo kini tengah bersiap menyambut selesainya pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto dengan belajar mengoperasikan kapal di atas 30 GT. (Foto: Sekwan Kulon Progo)

Wates, JOGJADAILY ** Karakter nelayan Kulon Progo terbilang berbeda, dibanding nelayan kebanyakan. Mereka sebelumnya berprofesi sebagai petani, sehingga belum terbiasa melaut. Dengan demikian, mereka harus berusaha keras mengubah kebiasaan. Apalagi bila melaut dengan kapal berbobot di atas 30 GT yang umumnya hingga 5 hari, baru pulang ke daratan.

“Orientasi Pemkab saat ini adalah melatih masyarakat nelayan siap untuk mengoperasionalkan kapal berbobot diatas 30 GT,” ujar Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap Dinas Kepenak Kulon Progo, Prabowo Sugondo, dalam Rapat Kerja bersama Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten (Kepenak) Kulon Progo di Ruang Rapat Gedung DPRD, Kamis (16/4/2015).

Sugondo menjawab pertanyaan Ketua Komisi II DPRD Kulon Progo, Muhtarom Asrori, seputar akan dioperasionalkannya Pelabuhan Tanjung Adikarto.

“Kendala dalam pengoperasionalkan kapal Inka Mina di atas 30 GT dikarenakan tempat tambat atau berlabuhnya kapal tidak di Kulonprogo dan nelayan yang bisa mendampingi hanya sedikit. Untuk Inka Mina 647 setiap melaut yang mendampingi minimal 3 orang,” terangnya.

Komisi II DPRD meminta penjelasan terkait kapal berbobot 30 GT yang dihibahkan pada Pemkab Kulonprogo dan dititipkan di Kabupaten Pacitan. Dari hasil Kunker ke Pacitan, Komisi II DPRD mendapat informasi bahwa kapal sudah tidak beroperasi selama setahun dan keberadaannya sekarang di bawa ke Pelabuhan Ratu.

“Komisi II DPRD berharap kapal yang masih berada di luar Kulonprogo agar segera ditindaklanjuti. Dan pembinaan pelatihan kepada nelayan Kulon Progo ditingkatkan, sehingga bilamana pelabuhan dioperasionalkan, kapal-kapal tersebut dapat kembali ke Kulon Progo,” tegas Muhtarom.

Kerja Sama Operasional

Dijelaskan Prabowo Sugondo, kapal yang dihibahkan pada Pemkab Kulon Progo berbobot di atas 30 Gross Ton (GT). Pada 2007, Kapal Akselerasi yang dihibahkan Pemerintah Pusat kepada Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Ngudi Rejeki Karangwuni di Kerja Sama Operasionalkan (KSO) dengan nelayan Pacitan.

Pada 2011, kapal Inka Mina 166 dihibahkan Pemerintah Pusat pada KUBE Bogowonto Jangkaran yang diketuai Bambang. Kapal di-KSO-kan dengan nelayan Cilacap. Tahun 2012, kapal Inka Mina 530 dihibahkan Pemerintah Pusat pada KUBE Bugel Peni. Kapal di-KSO-kan dengan nelayan Sadeng, Gunungkidul. Selama 2012-2014 kapal dipergunakan untuk pelatihan nelayan Kulon Progo di Sadeng.

Tahun 2013, kapal Inka Mina 467 berbobot kurang lebih 40 GT dihibahkan Pemerintah Pusat pada KUBE Arung Samodra Sindutan Temon. Kapal di-KSO-kan dengan nelayan Sadeng. Pada saat pertama kali melaut dapat menghasilkan 8,4 ton. Melaut kedua kali, mereka dapat menghasilkan 11 ton ikan.

“Dengan adanya kapal Inka Mina yang dihibahkan pemerintah pada nelayan Kulonprogo, Pemkab mendapat pemasukan PAD dari sisi pungutan retribusi,” tutur Sugondo, seperti dirilis Sekretariat DPRD Kulon Progo.

Sementara itu, menurtu Sugondo, untuk kesiapan Pelabuhan Tanjung Adikarto meliputi kolam pelabuhan, alur pelayaran, dan breakwater, serta bangunan penunjang, seperti bangunan di sekeliling pelabuhan, dibangun secara sharing APBN,APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten.

“Pembangunan fasilitas penunjang pelabuhan baru mencapai 90 persen . Dan apabila pelabuhan ini jadi dan berkembang, di Pemkab Kulonprogo harus ada perubahan di SKPD karena di Dinas Perhubungan belum ada yang membidangi Perhubungan Laut,” pungkasnya.