Pendapatan Petani Turun Akibat Erupsi Merapi, Pemerintah Perlu Lakukan Delineasi Kerusakan

ERUPSI MERAPI - Rumah hancur di Kecamatan Cangkringan Sleman saat erupsi Merapi 2010. (Foto: Crisco 1492/Wikipedia)
ERUPSI MERAPI – Rumah hancur di Kecamatan Cangkringan Sleman saat erupsi Merapi 2010. (Foto: Crisco 1492/Wikipedia)

Sleman, JOGJADAILY ** Pengalaman seringnya terjadi erupsi Gunung Merapi pemerintah diharapkan segera mendelineasi kerusakan lahan sawah, lahan kering, dan arel pertanaman. Selain itu, melakukan perbaikan infrastruktur usaha tani dan irigasi serta penyediaan kredit berbunga rendah atau tanpa agunan, khususnya dalam pengelolaan usaha tani tanaman pangan dan hortikultura, juga peternakan.

Hal yang tidak kalah penting, penataan kelembagaan petani serta cara mengubah perilaku petani lebih terencana dalam mengatasi bencana berupa pembelajaran atau edukasi pengetahuan tentang isyarat dini gejala bencana dan pemanfaatan kearifan lokal yang dimiliki petani.

“Asuransi dan talangan dana berbunga rendah diperlukan karena usaha tani dan usaha ternak sapi perah di Merapi berisiko besar terhadap erupsi yang sering terjadi pada Gunung Merapi,” ujar Sugeng Widodo saat ujian terbuka program doktor Program Pascasarjana Fakultas Pertanian UGM, Selasa (21/4/2015), seperti dirilis Humas UGM.

Menurutnya, erupsi Gunung Merapi berdampak pada penurunan biaya produksi dan produksi tanaman pangan serta hortikultura. Hal ini berdampak pada penurunan pendapatan petani. Erupsi Merapi juga berpengaruh pada pendapatan usaha tani tanaman pangan dan hortikultura temporer atau satu musim tanam saja.

“Statistik menunjukkan perbedaan nyata antara pendapatan petani sebelum, saat, dan setelah erupsi. Berdasarkan komparasi per musim tanam secara overall juga menunjukkan perbedaan nyata,” terang Sugeng.

Ia menjelaskan, pengaruh erupsi terhadap sektor perkebunan dan tanaman hutan menyebabkan penurunan nilai produksi dan pendapatan. Sementara itu, berdasarkan jenis komoditas perkebunan, tanaman mahoni, cengkeh, dan alpukat mengalami penurunan dibandingkan komoditas perkebunan lain.

“Secara statistik, dengan menggunakan uji t, erupsi Merapi berpengaruh terhadap pendapatan tanaman keras dan perkebunan. Belum lagi kalau kita bicara di sektor usaha sapi perah,” tutur Peneliti Ekonomi Pertanian dan Kebijakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta itu.

Pemulihan Pasca-Erupsi

Dalam pandangan Sugeng, hasil estimasi kerugian ekonomi merupakan informasi penting dalam proses penentuan kebijakan mengatasi masalah erupsi. Studi dinilai penting untuk program pemulihan kembali pasca-erupsi, mengingat erupsi yang sama sangat dimungkinkan terjadi di masa mendatang.

Sugeng mempertahankan disertasinya berjudul ‘Dampak Ekonomi Erupsi Merapi terhadap Sektor Pertanian dan Lingkungan TNGM di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah’.

Seperti diketahui, erupsi Merapi telah menyebabkan kerusakan sektor pertanian, seperti kegagalan panen sayur, tanaman pangan, perkebunan, peternakan, lingkungan sosial, dan sistem produksi pertanian, serta kerusakan pada kawasan Taman Nasional Gunung Merapi di DIY dan Jawa Tengah. Erupsi Merapi 2010 memiliki tingkat kerusakan cukup besar, yakni di atas 80 persen, baik di sektor pertanian, perkebunan, maupun lingkungan usaha tani.