Riset Pemulihan Kualitas Air DIY Karena Limbah Industri, Dua Mahasiswa UII Belajar ke Jepang

KUALITAS AIR - Badan Lingkungan Hidup DIY melakukan pemantauan air laut Pantai Glagah Kulon Progo. Foto dirilis 11 Maret 2015. (Foto: BLH DIY)
KUALITAS AIR – Badan Lingkungan Hidup DIY melakukan pemantauan air laut Pantai Glagah Kulon Progo. Foto dirilis 11 Maret 2015. Kualitas air menjadi concern mahasiswa UII, hingga mendapat beasiswa ke Jepang. (Foto: BLH DIY)

Sleman, JOGJADAILY ** Dua orang mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII), Adam Ikhya Alfarokhi dan Anandhitya Rheza Adrian, mendapat beasiswa pertukaran pelajar selama sebulan ke Hokkaido University Jepang.

Mereka concern pada upaya pemulihan kualitas air DIY yang terus menurun, akibat pencemaran limbah industri.

Semasa mengikuti pertukaran pelajar yang singkat ini mereka benar-benar memperdalam penelitian tentang air. Upaya ini mendapat dukungan dari sivitas akademika Hokkaido University yang tertarik pada penelitian mereka.

“Selama di Jepang, kami mempelajari tata cara pengembalian kualitas air melalui sistem adsorpsi dan berkonsentrasi pada pembuatan adsorben baru yang berbiaya rendah (low cost treatment),” ujar Adam Ikhya, dirilis Humas UII, Selasa (31/3/2015).

Selama melakukan penelitian, kata Adam, mereka banyak didorong sivitas akademika Hokkaido University.

“Ada Prof Shunitz Tanaka dan para senpai dari mahasiswa tingkat master yang selalu memberikan bimbingannya kepada kami. Dari mereka kami dapat belajar secara langsung dan mendalam tentang bagaimana mengembalikan kualitas air dengan sistem adsorpsi,” jelasnya.

Jepang Peduli Riset

Sementara itu, Anandhitya Rheza menilai, Jepang adalah negara yang menaruh perhatian besar terhadap riset dan pengembangan teknologi.

“Tidak mengherankan jika negerinya maju pesat karena dukungan kelengkapan fasilitas seperti laboratorium dan peralatan-peralatan di dalamnya sangat membantu peneliti dalam melakukan riset,” ucapnya.

Adapun ilmu lain yang mereka petik selama belajar di laboratorium, seperti electrokinetic remediation dan adsorption dengan memakai magnetic chitosan berbahan lokal bambu Jepang.

Di samping itu, kedua mahasiswa UII tersebut juga melihat bahwa sebenarnya nilai-nilai positif yang ada di Jepang, seperti budaya belajar, semangat bekerja, dan disiplin dapat pula diterapkan di Indonesia.

“Tentunya ini membutuhkan konsistensi kita sendiri dan semangat untuk terus menjadi lebih baik,” tambahnya.

Pasca merampungkan student exchange, terbuka kesempatan bagi keduanya untuk melanjutkan studi tingkat S2 di universitas yang sama, khususnya di Faculty of Environmental Science.