Suriname, Pasar Potensial Ekspor Produk Kerajinan Bantul

PELUANG EKSPOR - Bupati Bantul Sri Suryawidati dan Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Nur Syahrir Raharjo, dalam acara Tindak Lanjut Pelaksanaan Indo Fair Tahun 2014 dan Penggalangan Pengusaha DIY di Aula Bank Bantul, Selasa (7/4/2015). (Foto: Kemlu)
PELUANG EKSPOR – Bupati Bantul Sri Suryawidati dan Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Nur Syahrir Raharjo, dalam acara Tindak Lanjut Pelaksanaan Indo Fair Tahun 2014 dan Penggalangan Pengusaha DIY di Aula Bank Bantul, Selasa (7/4/2015). (Foto: Kemlu)

Bantul, JOGJADAILY ** Suriname merupakan penghasil bermacam hasil bumi dan hutan yang diekspor berupa barang setengah jadi. Semua kebutuhan hidup sehari-hari mereka diimpor dari negara lain, termasuk produk kerajinan.

“Berbagai produk kerajinan, makanan, kosmetik, pakaian, dan produk lain yang ada di Bantul dan DIY sangat dibutuhkan oleh Suriname,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Nur Syahrir Raharjo, dalam acara Tindak Lanjut Pelaksanaan Indo Fair Tahun 2014 dan Penggalangan Pengusaha DIY di Aula Bank Bantul, Selasa (7/4/2015).

Menurutnya, produk kerajinan asli Bantul sangat diminati warga Suriname. Untuk itu, peluang ekspor ke negara tersebut sangatlah besar.

Dubes Nur Syahrir menyampaikan kepada para pengrajin bahwa jika ingin melakukan ekspor ke Suriname akan dibantu sepenuhnya. Syaratnya, harus dilakukan secara profesional.

“Karena warga Suriname hidup makmur maka mereka tidak segan-segan memborong produk kerajinan, terutama yang berbau Jawa,” katanya.

Adanya ikatan emosional antara Jawa dengan Suriname yang 15 persen atau 80 ribu jiwa penduduknya beretnis Jawa, sambung Nur, minat terhadap hasil kerajinan maupun budaya Jawa sangat tinggi.

“Bahkan di kantor kedutaan saya mempunyai sebuah keris hasil karya dari seorang empu keris terkenal dari Bantul. Pernah ditawar oleh orang Jawa suriname dengan harga US$30 ribu pun dia mau,” ungkap Dubes, dirilis Pemkab Bantul.

Dubes menceritakan sejarah pemberangkatan orang Jawa oleh Belanda yang berlangsung dari tahun 1890 hingga 1939, kemudian dihentikan karena terjadi Perang Dunia II.

“Jika tidak dihentikan oleh PD II, kemungkinan penduduk Suriname mayoritas beretnis Jawa,” kisahnya.

Amerika Selatan dan Karibia

Eratnya hubungan antara Indonesia dengan Suriname dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena, Suriname dapat menjadi pintu gerbang masuknya produk kerajinan dan produk ekspor lainnya di kawasan Amerika Selatan dan Karibia yang berpenduduk sekitar 550 juta jiwa dari sekitar 12 negara.

“Kami merasa prihatin, karena peluang ekspor kerajinan berupa batik, kuliner busana khas Indonesia tersebut ternyata ditangkap oleh negara tetangga kita, seperti Malaysia, kemudian diekspor ke Suriname. Bahkan film-film berbahasa melayu pun banyak diekspor ke Suriname,” tuturnya.

Sementara itu, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Suriname untuk Indonesia, Mr. Kartowikromo Sheffron, menyampaikan bahwa dirinya atas nama Pemerintah Suriname menyambut baik Pemkab Bantul yang telah beberapa kali mengirimkan duta kesenian ke Suriname.

“Suriname merupakan satu-satunya Negara di Amerika Selatan yang mempunyai keturunan Jawa yang potensial sebagai pintu masuk ekspor dari Indonesia khususnya Jawa ke kawasan Amerika Selatan dan Karibia,” katanya.

Pada saat ini, etnis Jawa telah sampai keturunan ketiga, yang sudah tidak begitu mengenal budaya Jawa. Hanya kalangan tua yang masih mengenal budaya Jawa, seperti melakukan acara kenduri, selamatan, dan perayaan memperingati kedatangan orang Jawa di Suriname. Pada tahun 2015, genap 125 tahun peringatan besar-besaran akan digelar dengan mendatangkan penyanyi dari Jawa, seperti Didi Kempot dan Mus Mulyadi.

“Bahkan mereka banyak yang meniru model pakaian maupun model rambut ala Mus Mulyadi,” ucap Mr. Sheffron.