UMKM, Potensi Pertumbuhan Ekonomi Kulon Progo

PRODUK UMKM - Jarik lurik, salah satu produk UMKM Kulon Progo. (Foto: Dinas Koperasi dan UMKM Kulon Progo)
PRODUK UMKM – Jarik lurik, salah satu produk UMKM Kulon Progo. (Foto: Dinas Koperasi dan UMKM Kulon Progo)

Wates, JOGJADAILY ** Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan potensi pertumbuhan ekonomi Kulon Progo. Visi-misi Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menempatkan UMKM dalam posisi strategis. Ketika terjadi krisis moneter beberapa waktu lalu, kekuatan UMKM terbukti bisa bertahan sebagai kekuatan ekonomi riil.

“Kulon Progo saat ini sedang menjadi sorotan dari banyak kalangan, karena mempunyai daya tarik dan daya ucap yang tinggi, baik di tingkat DIY maupun nasional. Hal ini, karena Kulon Progo memiliki megaproyek, seperti bandara, dermaga, pasir besi, dan ada kawasan industri,” ujar Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPMPT) Kabupaten Kulon Progo, Agung Kurniawan, saat Temu Usaha antara pelaku UMKM dengan pengusaha provinsi dan nasional, di RM Nggirli, Wates (20/4/2015).

Ia berharap, megaproyek itu akan memberikan peluang bagi masyarakat Kulon Progo, khususnya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)

“Dengan demikian, diharapkan pula pertumbuhan ekonomi semakin meningkat dan mampu menciptakan lapangan kerja yang bisa mengolah potensi masyarakat menjadi kekuatan ekonomi riil, dan pada akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan,” terang Agung

Meski demikian, Agung menyadari kelemahan UMKM, yaitu kurangnya pengembangan pangsa pasar. Apalagi tahun ini akan diberlakukan Asean Economic Community (AEC).

“Jadi, pasar bebas ini adalah liberalisasi perdagangan barang/jasa secara bebas tanpa hambatan tarif dan non-tarif. Dengan diberlakukannya pasar bebas ini Indonesia akan diserbu oleh barang/jasa, investasi dan tenaga kerja terampil dari luar negeri,” ungkapnya.

BPMPT berupaya memfasilitasi kerja sama kemitraan antara pelaku UMKM dan pengusaha di tingkat provinsi dan nasional dalam bentuk temu usaha, untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM. Dengan kegiatan ini, harapannya peserta dapat mengambil ilmu dan materi yang disampaikan dan dapat mengimplementasikan dalam usaha, sehingga akses ini dapat meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.

Kelemahan UMKM dibenarkan dosen Sekolah Vokasional UGM, Moh. Halimi, yang menyatakan bahwa kelemahan UMKM saat ini ada pada jaringan pemasaran. Mengatasi hal tersebut, harus dilakukan upaya komprehensif dan integrated oleh semua pihak untuk mengangkat citra Indonesia yang bernilai di pasar dunia.

Sementara itu, Korbid Peningkatan SDM Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Wardati, memaparkan peluang pengenalan potensi kerajinan di Kulon Progo melalui hotel-hotel di DIY. Wardati menjelaskan syarat-syarat produk yang bisa dipamerkan di hotel.

Investasi

Menyoal investasi di Kulon Progo, Agung Kurniawan menjelaskan bahwa saat ini jumlah investasi total sementara triwulan I tahun 2015 di Kulon Progo berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) mencapai Rp1,04 triliun, atau meningkat sangat tajam dibanding investasi kumulatif Kulon Progo yang mencapai Rp700 miliar. Artinya, megaproyek betul-betul menjadi daya tarik.

“Investor dari luar daerah sudah masuk ke Kabupaten Kulon Progo, melakukan pembebasan tanah, mengurus izin, dan memulai kegiatan usaha. Oleh karena itu, menyambut megaproyek, UMKM jangan hanya jadi penonton, tetapi harus mengambil peran dalam dinamika investasi di Kulon Progo,” tegas Agung.