Undang Seniman Jogja Ikuti Europalia Festival, Dubes Belgia Sowani Sri Sultan HB X

UNDANGAN - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima kunjungan Duta Besar Kerajaan Belgia untuk Indonesia, Patrick Herman, di Gedhong Willis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (10/4/2015). (Foto: Humas DIY)
UNDANGAN – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima kunjungan Duta Besar Kerajaan Belgia untuk Indonesia, Patrick Herman, di Gedhong Willis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (10/4/2015). (Foto: Humas DIY)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Duta Besar Kerajaan Belgia untuk Indonesia, Patrick Herman, tertarik, senang, dan gembira berkesempatan datang ke Yogyakarta. Menurutnya, Jogja adalah salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan seni budaya.

“Kerajaan Belgia ingin mengundang misi seni Budaya Yogyakarta untuk Europalia Festival. Dengan demikian, nantinya Kerjaan Belgia bisa berkolaborasi dengan seniman-seniman muda dan hebat dari Indonesia,” ujar Herman saat bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Willis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (10/4/2015).

Bersama General Manager Europalia International, Baroness Kristine De Molder; Artistic Director Europalia International , Dirk Vermaelem; dan Project Offiicer Europalia International , Marie Eve Tesch, Herman menjelaskan bahwa maksud dan tujuan kedatangannya adalah untuk mengundang Yogyakarta agar berpartisipasi dalam Europalia Festival yang diselenggarakan Europalia Internasional.

Sebelumnya, rombongan telah mengunjungi Jakarta. Kunjungan ke Jogja, menurut Herman, melihat kebudayaan Indonesia secara utuh, mengingat kota ini sarat kebudayaan dan sangat menarik.

Dubes Indonesia untuk Belgia, Luxemburg, dan Uni Eropa, Riaz JP. Saehu menambahkan, Europalia Festival diadakan dua tahun sekali, serta berlangsung empat bulan, dari Oktober hingga Januari. Kegiatan tidak hanya diselenggarakan di Belgia, tetapi juga 70 kota di Eropa.

Kegiatan tersebut bisa menjadi ajang promosi keanekaragaman budaya Indonesia, termasuk Yogyakarta, di mata dunia. Para seniman diharapkan dapat menampilkan kekayaan budaya dan tradisi Indonesia.

Europalia Internasional adalah sebuah lembaga non-profit yang concern mempromosikan kebudayaan suatu negara di ibu kota Uni Eropa, Brussels.

Makan Malam

Pada Jumat malam, bertempat di Bangsal Srimanganti Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjamu makan malam rombongan delegasi Kerajaan Belgia. Sultan lantas menjelaskan sejarah singkat Dinasti Mataram hingga berdirinya Kasultanan Yogyakarta.

“Sebelum berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Mataram mengalami beberapa kualifikasi era, yaitu Era mataram Kuno berdiri di abad VII masa kejayaan agama Budha dan berdirinya Candi Borobudur di tahun 1755; Era Agama Hindu dengan berdiri Candi Prambanan; dan Era Kejayaan Mataram   Islam di abad ke-14; dan berakhir dengan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengku Buwono I hingga berlanjut sampai saat ini,” terang Sultan.

Ia menambahkan, hubungan antar-agama di DIY sangat harmonis. Hal ini ditunjukkan dengan adanya berbagai peninggalan agama dari masa lalu.

Turut menyemarakkan jamuan makan malam, Tari Srimpi Pande Lari dan Fragmen Gatutkoco-Sutejo.