Workshop Guru BK SMK Se-Bantul: Penelitian Tindakan Kelas Tingkatkan Profesionalitas Guru

KUALITAS GURU - Workshop Penelitian Tindakan Guru Bimbingan dan Konseling SMK Se-Bantul, Rabu (29/4/2015) di Ruang Sidang Theater Lt. 4 Gedung Pascasarjana UMY. (Foto: Humas DIY)
KUALITAS GURU – Workshop Penelitian Tindakan Guru Bimbingan dan Konseling SMK Se-Bantul, Rabu (29/4/2015) di Ruang Sidang Theater Lt. 4 Gedung Pascasarjana UMY. (Foto: Humas UMY)

Bantul, JOGJADAILY ** Guru perlu meningkatkan kemampuannya melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mencipatakan guru profesional. Pasalnya, meningkatnya kemampuan pembelajaran guru akan berdampak pada peningkatan kompetensi kepribadian, sosial, dan profesionalitas guru. Hal tersebut bisa meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

“Saat ini guru memiliki peran yang sangat luas, di mana jabatan fungsional seorang guru ini dituntut untuk bisa membuat artikel ilmiah, modul pembelajaran, dan penelitian. Ketiganya ini memiliki siklus yang tentunya saling berkesinambungan. Apalagi jika dilihat dari guru BK ini sebenarnya kan banyak peran yang bisa dimainkan. Contohnya, terkait dengan sikap dan perilaku siswa ketika berada di sekolah,” ujar Nawari Ismail.

Dirilis Humas UMY, Nawari menjadi pemateri dalam Workshop Penelitian Tindakan Guru Bimbingan dan Konseling SMK Se-Bantul, Rabu (29/4/2015), di Ruang Sidang Theater Lt. 4 Gedung Pascasarjana UMY. Workshop merupakan kerja sama Program Studi Magister Studi Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Se-Kabupaten Bantul.

“Banyak manfaat yang kita dapat dari PTK. PTK ini bisa menghasilkan sebuah artikel ilmiah dan juga modul pembelajaran. Artikel ilmiah ini bisa dikirim ke media bisa juga dijadikan sebuah buku untuk dana bisa mengajukan ke pemerintah. Namun, PTK ini juga perlu diimplementasikan agar nantinya PTK tersebut mengalami perkembangan,” terang Nawari.

Pembicara lain, Akif Khilmiyah, mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dilakukan untuk melakukan PTK agar memiliki nilai baik dan dapat diimplementasikan.

“Ciri-ciri PTK, dipicu permasalahan praktis, bertujuan untuk memperbaiki pengajaran secara praktis. Untuk melakukan itu semua kita bisa melakukan kolaborasi antara guru dengan peneliti. Untuk menemukan masalah dalam PTK ini sangat mudah, yang terpenting tujuannya adalah untuk memperbaiki sistem pembelajaran, misalnya dengan melihat keaktifan, minat, dan perhatian siswa dalam mata pelajaran tertentu, “ jelas Akif.

Ia melanjutkan, dalam melakukan PTK perlu pendampingan agar berjalan lancar dan tidak tersendat.

“Sebenarnya, jika Perguruan Tinggi saling berkolaborasi dengan Sekolah, banyak hal yang bisa dikembangkan. Jadi, melakukan amal saleh ini bisa kita lakukan dengan membuat penelitian,” tuturnya.

Akif dan Nawari berharap, kegiatan ini tidak berhenti sampai workshop, tetapi terus berlangsung hingga peserta bisa menemukan ide untuk diteliti, lalu ditulis dan hasil akhirnya bisa menghasilkan sebuah produk karya tulis ilmiah. Tentunya, karya ilmiah ini bisa dipublikasikan, baik itu dijadikan buku, dimasukkan ke jurnal, dan dikirim ke media.

Guru, Penuntun dan Panutan

Sementara itu, menurut Arif Budi Raharjo, saat ini, guru menjadi tokoh penuntun dan panutan yang berfungsi sebagai uswatun hasanah bagi siswa dan lingkungannya. Guru berperan sebagai figur pentransfer nilai, moral, serta ilmu dan teknologi kepada generasi di bawahnya.

“Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk mencipatakan guru profesional. Salah satunya adalah mengadakan Workshop Penelitian Tindakan Guru Bimbingan dan Konseling SMK Se-Bantul,” katanya.